Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 September 2026 | 19.34 WIB

Akibat Maraknya Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Semprot SPPG yang Memanipulasi Label

Pembagian makan bergizi gratis (MBG) untuk kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD) di sebuah posyadu di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, Selasa (13/7/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Pembagian makan bergizi gratis (MBG) untuk kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD) di sebuah posyadu di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, Selasa (13/7/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegur keras kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dengan baik. Salah satunya terkait pemasangan label pada ompreng makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sudaryono bahkan menilai ada kepala SPPG yang mencoba membohongi BGN dengan hanya memasang label pada satu ompreng. Sementara ribuan ompreng lainnya tidak diberi label sesuai ketentuan.

“Jadi saya, melihat mohon maaf kesadaran Anda dalam bekerja ini nggak ada. Sampaikan itu ternyata dapurnya jelek sekali. SOP-nya nggak bagus. Dia naruh-naruhnya di lantai. Terus kemudian dia bohongin saya, saya suruh pasang label ternyata satu sekolah satu label. Dan itu labelnya entah di mana. Dilabeli jam 10 tapi diantar jam 12. Itu kan kok bohongin kita semua,” kata Sudaryono dalam video yang diunggah di instagram @sudaru_sudaryono, Senin (8/9).

Menurut dia, kepala dapur SPPG dan jajaran BGN di daerah merupakan kepanjangan tangan lembaga dalam menjalankan program MBG. Karena itu, dia menilai tidak semestinya petugas justru tidak jujur dalam menjalankan instruksi.

“Sebetulnya aneh kalau misalnya pegawai kita yang kepanjangan tangan saya yang ada di dapur-dapur, ada di kecamatan, kabupaten, dan provinsi ini kemudian itu jadi tidak jujur sama kita. Itu kan lucu gitu lho,” ujarnya.

Sudaryono kemudian mencontohkan praktik pemasangan label yang menurutnya tidak sesuai dengan perintah. Label disebut hanya dipasang pada satu ompreng agar sistem pemantauan MBG menunjukkan bahwa ketentuan telah dijalankan.

“Itu maksudnya apa ya saya juga bingung? Kok Anda membohongi saya, membohongi kita? Ini Anda nih kerja untuk siapa sebetulnya?” tegas Sudaryono.

Dia menekankan, kepatuhan terhadap SOP menjadi penting karena program MBG berkaitan langsung dengan kesehatan penerima manfaat. Menurutnya, kedisiplinan petugas di dapur akan mengurangi kebutuhan pengawasan tambahan dari BGN.

“Jadi apa, Anda ini adalah kepanjangan tangan kami. Kalau seluruh kepala dapur, seluruh SPPI itu kemudian taat SOP, bertanggung jawab, hadir di setiap proses memasak di dapur, disiplin, udah nggak perlu yang namanya Zoom tiap tengah malam tuh nggak perlu. Kenapa menjadi perlu karena Anda tidak disiplin. Karena Anda ternyata membohongi kami gitu,” katanya.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore