
Salah satu siswa SMPN 1 Kabuh yang masih menjalani perawatan di Puskesmas Kabuh akibat dugaan keracunan MBG. (Radar Jombang)
JawaPos.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 1.961 anak keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) hanya dalam waktu 3 hari di awal September tahun ini. Kondisi itu menjadi peringatan alarm keras bagi Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menyampaikan bahwa kasus yang terjadi pada rentang 1-3 September itu tersebar di Bener Meriah, Aceh; Agam, Sumatera Barat (Sumbar); Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel); Rembang, Jawa Tengah (Jateng); dan Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).
Menurut Jasra Putra, angka 1.961 tersebut harus dibaca bukan semata sebagai kumpulan kasus keracunan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai alarm serius terhadap sistem manajemen risiko dalam pelaksanaan program MBG sebagai prioritas pemerintah.
”Ini harus jadi alarm keras presiden, karena persoalan lama masih terus berulang, belum berubah,” kata dia dalam keterangan resmi pada Sabtu (5/9).
Jasra menyampaikan bahwa MBG merupakan program strategis yang memiliki karakter berbeda dengan program pemerintah lainnya. Sebab, kesalahan dalam pelaksanaannya dapat langsung menyentuh keselamatan dan kesehatan anak-anak penerima manfaat.
”Pertaruhannya adalah tubuh dan jiwa anak. Ketika makanan yang seharusnya menjadi instrumen pemenuhan gizi justru menimbulkan gangguan kesehatan, maka negara tidak boleh hanya menghitung apakah ada yang meninggal atau tidak,” tegasnya.
Keselamatan anak, kata Jasram, tidak boleh menunggu sampai jatuh korban jiwa. Karena itu, pihaknya mendorong agar efek jera menjadi bagian dari tata kelola pelaksanaan MBG. KPAI melihat salah satu persoalan yang harus segera dibenahi adalah mekanisme pertanggungjawaban penyedia.
Bila dilihat lebih jauh, setiap tahapan MBG memiliki titik risiko. Mulai dari perencanaan menu dan bahan baku, pengadaan, pengolahan, pemasakan, pendinginan, pemorsian, pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, distribusi sampai makanan dikonsumsi anak.
”Di setiap titik itu ada SOP. Tetapi, SOP tanpa konsekuensi yang tegas akan mudah menjadi sekadar dokumen administratif. Harus ada hubungan yang jelas antara kepatuhan, kualitas layanan, pembayaran, evaluasi kontrak, penghentian operasional dan penegakan hukum apabila ditemukan kelalaian atau pelanggaran,” bebernya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
