Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 September 2026 | 18.14 WIB

Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengancam Pernapasan Anak, IDAI Sarankan 13 Langkah Perlindungan

Ilustrasi Anak Sakit. (Dok. freepik.com) - Image

Ilustrasi Anak Sakit. (Dok. freepik.com)

JawaPos.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak 4 September 2026 menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Sebaran abu vulkanik telah mencapai sejumlah wilayah di Jabodetabek, Banten, Lampung, hingga sebagian Jawa Barat.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tinggi. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kemungkinan dampak abu vulkanik terhadap kesehatan saluran pernapasan.

Abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa. Material tersebut terdiri atas pecahan batuan, mineral, serta kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel yang bersifat tajam dan abrasif tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup.

Selain partikel padat, abu vulkanik juga dapat disertai gas iritan, antara lain sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Paparan material dan gas tersebut berpotensi menimbulkan iritasi serta peradangan pada saluran pernapasan.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), meminta perlindungan terhadap anak menjadi perhatian utama dalam kondisi darurat akibat erupsi.

"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Ditengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," kata dr. Piprim dalam keterangannya, Senin (6/9).

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa anak dapat mengalami sejumlah gangguan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas dr. Wahyuni.

Menurut dia, perhatian lebih harus diberikan kepada anak-anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Kelompok tersebut antara lain bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak yang mengalami penyakit jantung bawaan.

"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," ucap Dr Wahyuni.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore