
Peraih Nobel Perdamaian asal India, Kailash Satyarthi, dalam diskusi bertajuk A Conversation with Kailash Satyarthi - Democracy, Human Rights, and Social Welfare yang mempertemukannya dengan akademisi, pengacara, aktivis, dan pelaku usaha di Universitas Harkat Negeri, Jakarta. (Istimewa)
JawaPos.com - Peraih Nobel Perdamaian asal India, Kailash Satyarthi, mengingatkan bahwa kualitas demokrasi tidak semata-mata ditentukan oleh rutinnya pemilihan umum maupun keberadaan aturan yang menjamin hak warga negara dalam konstitusi.
Menurut Satyarthi, demokrasi baru memiliki makna ketika masyarakat benar-benar dapat menggunakan haknya untuk mendapatkan perlindungan, keadilan, sekaligus meminta pertanggungjawaban pemerintah.
Hal itu disampaikan Satyarthi dalam diskusi bertajuk A Conversation with Kailash Satyarthi - Democracy, Human Rights, and Social Welfare yang mempertemukannya dengan akademisi, pengacara, aktivis, dan pelaku usaha di Universitas Harkat Negeri, Jakarta.
Ia menekankan, hak yang hanya tercantum dalam dokumen hukum tidak akan memberikan arti apabila masyarakat, terutama kelompok rentan, tidak memiliki kemampuan untuk mengakses dan memperjuangkannya.
"Hak tidak boleh berhenti sebagai tulisan di atas kertas. Ketika hak dirampas, demokrasi mengerut. Ketika akuntabilitas hilang, demokrasi tenggelam," kata Satyarthi, Selasa (1/9).
Dalam menggambarkan persoalan tersebut, Satyarthi mengambil contoh seorang ibu tunggal yang kesulitan menyediakan makanan bagi anaknya dan tidak memiliki kemampuan untuk melindungi anak perempuannya dari ancaman perdagangan manusia.
Perempuan dalam situasi tersebut mungkin tidak memahami demokrasi atau hak asasi manusia dalam pengertian akademis. Namun, kebutuhan dasarnya sangat jelas, anaknya harus mendapatkan makanan dan terbebas dari ancaman perdagangan manusia.
Menurut Satyarthi, persoalan mendasar semacam itu justru menjadi salah satu ukuran nyata apakah demokrasi mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti kebiasaan memandang demokrasi, hak asasi manusia, dan kesejahteraan sosial sebagai tiga persoalan yang terpisah. Padahal, ketiganya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Monza vs Cagliari di Liga Italia: Tim Tamu Punya Catatan Impresif di Laga Tandang
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City: Menang Tipis, De Zerbi Akhiri Tren Buruk
Prediksi Skor Trabzonspor Vs Besiktas di Liga Turki: Salah Cs Punya Rekor Kandang Impresif
UU Ketenagakerjaan Batasi PKWT Maksimal 4 Tahun, Said Iqbal: Kalau Ciptaker Sembarangan
Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano: Emil Audero Bantu El Rayo Perpanjang Kutukan 10 Laga!
Persebaya Berangkat ke Makassar Besok! Tavares Siap Tantang Mantan Tim PSM
Prediksi Skor Al Fayha vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: Ivan Toney Siap Menggila di Al Majma’ah
Prediksi Skor Parma vs Torino: Kans Il Toro Tundukkan Tuan Rumah di Stadio Ennio Tardini!
Prediksi Tottenham vs Coventry: Spurs Belum Menang dalam Enam Laga, Coventry Percaya Diri
Prediksi Skor Monza vs Cagliari: Rossoblù Menang Tipis, Rekor Berusia 61 Tahun Terancam Pecah!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022