
Sekjen Laskar Merah Putih Abdul Rachman Thaha. (Istimewa)
JawaPos.com - Pemerintah melakukan langkah progresif mengintegrasikan Nomor Identifikasi Bidang (NIB) dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dengan Nomor Objek Pajak (NOP) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah (Pemda).
NIB merupakan kode pengenal unik yang diberikan untuk setiap bidang tanah, memastikan posisi geografis, batas-batas tanah, dan luasan fisik tanah, telah terekam secara akurat dalam peta digital Kementerian ATR/BPN. Sementara, NOP merupakan nomor identitas yang diberikan Bapenda masing-masing untuk keperluan pemungutan PBB, yang berfokus pada nilai fiskal, subjek pajak, dan besaran setoran pajak harian atau tahunan.
Selama puluhan tahun, menurut tokoh pemuda Sulawesi Abdul Rachman Thaha, data pertanahan (Kementerian ATR/BPN) dan data perpajakan (Pemda) berjalan di jalur masing-masing (silo data). Hal itu memicu berbagai masalah kronis di lapangan.
Menurut dia, integrasi kedua basis data NIB – NOP dalam satu sistem terpadu membawa dampak positif yang masif bagi berbagai pihak.
”Bagi masyarakat atau wajib pajak, integrasi tersebut dapat memberikan jaminan bahwa tanah yang mereka bayar pajaknya secara hukum diakui letak dan ukurannya,” papar Abdul Rachman Thaha yang juga sekjen Laskar Merah Putih itu.
Selain itu, lanjut dia, proses jual beli, balik nama kepemilikan tanah, dan pembaruan data pajak bisa berjalan otomatis secara paralel tanpa harus mengurus ke dua instansi yang berbeda.
Baca Juga:Menkeu Purbaya Tegaskan Tarif Pajak Takkan Naik Tahun Ini, tapi Siap-siap Kejar Penunggak Pajak
Pembayaran PBB juga dihitung berdasark luasan fisik riil yang terekam di peta spasial sehingga dapat mencegah bayar pajak berlebih.
Bagi Pemda, dia menjelaskan, integrasi tersebut dapat menemukan objek-objek pajak tersembunyi yang belum terdaftar di database PBB, mempercepat terciptanya basis data nasional yang akurat untuk perencanaan tata ruang dan investasi, dan menghilangkan interaksi tatap muka yang tidak perlu melalui otomatisasi sistem.
Meski memiliki tujuan yang ideal, Abdul Rachman Thaha menjelaskan, transformasi digital berskala nasional ini dihadapkan pada beberapa tantangan teknis.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
