
Sejumlah masa aksi yang tergabung dalam Aliansi MBG Watch menggelar aksi didepan Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Amnesty International Indonesia mendesak pemerintah segera menghentikan sementara dan mengevaluasi secara menyeluruh program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul rentetan kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di Jayapura, Papua, serta Semarang, Jawa Tengah, dalam sepekan terakhir.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai insiden tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk meninjau pelaksanaan program MBG.
“Besarnya jumlah siswa yang dilaporkan keracunan MBG di Jayapura, Papua, dan di Semarang, Jawa Tengah dalam sepekan terakhir harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera menghentikan dan mengevaluasi program tersebut," kata Usman dalam keterangannya, Rabu (5/8).
Menurut dia, pemerintah tidak seharusnya merespons kasus keracunan dengan membandingkan jumlah korban terhadap total penerima manfaat program.
" Ini adalah pola pikir yang keliru karena setiap anak harus mendapatkan jaminan hak atas kesehatan," ujarnya.
Usman menyebut rangkaian kasus keracunan yang terus berulang menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar dalam pelaksanaan program MBG. Ia menyoroti data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat lebih dari 37 ribu anak sekolah menjadi korban keracunan MBG sejak program dimulai pada Januari 2025 hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 9.000 kasus terjadi sepanjang Januari hingga Mei 2026.
"Sungguh ironis program yang digadang sebagai solusi gizi nasional untuk kesehatan berubah menjadi malapetaka bertubi-tubi dengan puluhan ribu siswa menjadi korban keracunan. Bahkan, yang terjadi di distrik Depapre, Jayapura mengakibatkan fasilitas kesehatan kewalahan," ungkapnya.
Ia juga menilai belum ada investigasi menyeluruh maupun proses hukum terhadap berbagai kasus keracunan massal yang dikaitkan dengan program MBG.
Baca Juga:Hidup Miskin di Awal! 6 Weton Ini Diramal Jadi Sultan Saat Usia Senja, Rezeki Mengalir Deras
Lebih lanjut, Amnesty International menilai rentetan kejadian di Jayapura dan Semarang bukan sekadar kelalaian kasuistis, melainkan kegagalan sistemik negara melidungi siswa sekolah.
"Masyarakat sudah lama mempermasalahkan MBG, Komnas HAM pun Juni lalu menemukan indikasi pelanggaran HAM dalam MBG, di antaranya pelanggaran Hak atas Kesehatan, Hak Anak, dan Hak atas Pangan. Alih-alih memberikan nutrisi, program ini justru mengancam nyawa anak-anak dan para guru," lanjutnya.
Lebih jauh, tambah Usman, tata kelola MBG ini juga bermasalah dengan karut-marut kebijakan. Fakta di sidang Mahkamah Konstitusi (MK) Juli lalu menilai penggunaan anggaran pendidikan demi MBG telah menyalahi Konstitusi. Mengorbankan anggaran pendidikan demi MBG yang bermasalah dengan standar keselamatan adalah pengabaian negara atas hak warga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022