
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap pola penyebaran paham radikal yang kini berkembang di ruang digital. Menurutnya, pendekatan yang digunakan kelompok radikal tidak lagi identik dengan ujaran kebencian atau ajakan melakukan kekerasan, melainkan diawali melalui tindakan yang tampak penuh kepedulian.
Ia menjelaskan, berbagai bentuk bantuan seperti pendampingan, dukungan finansial, hingga perhatian secara personal kerap dijadikan pintu masuk untuk membangun kedekatan dengan calon korban. Setelah hubungan tersebut terjalin, korban secara bertahap diarahkan untuk menerima ideologi ekstrem.
Meutya menilai pola radikalisasi telah mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi digital. Kelompok radikal kini lebih mengandalkan pendekatan yang bersifat personal dan persuasif, terutama kepada anak-anak serta kelompok masyarakat yang dinilai rentan.
"Saya harus tekankan bahwa kekerasan tidak dimulai dengan satu kata jahat. Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem," ujar Meutya saat menghadiri Diskusi Buku Atas Nama Surga: Algoritma, Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta Pusat, dikutip Sabtu (1/8).
Menurut Meutya, kemajuan teknologi membuat proses penyebaran paham radikal semakin kompleks untuk dikenali. Narasi yang dibangun kelompok tertentu kini diperkuat oleh algoritma media digital yang terus menyajikan konten sesuai kebiasaan dan preferensi pengguna.
Kondisi tersebut membuat seseorang berpotensi terus menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri, meskipun informasi tersebut belum tentu benar atau didukung fakta.
"Ketika narasi bertemu dengan algoritma, lahirlah ilusi bahwa sesuatu yang terus muncul adalah kebenaran. Pada titik itu, fakta mulai kalah oleh emosi dan keyakinan. Inilah tantangan besar yang kita hadapi pada era post truth," katanya.
Ia menambahkan, perubahan perilaku akibat paparan konten digital umumnya berlangsung secara bertahap. Karena prosesnya tidak terjadi secara instan, keluarga sering kali terlambat menyadari adanya perubahan yang mengarah pada proses radikalisasi.
"Anak tidak berubah dalam satu atau dua hari. Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua mulai renggang. Cerita yang dulu terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya tidak ada lagi komunikasi. Saat itulah kita sering terlambat menyadari bahwa telah terjadi perubahan yang serius," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022