
Pemerintah mulai merealisasikan perdagangan karbon di sektor kehutanan saat peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di Jakarta, Kamis (9/7). (Istimewa)
JawaPos.com - Pemerintah mulai merealisasikan perdagangan karbon di sektor kehutanan setelah bertahun-tahun kebijakan tersebut hanya menjadi wacana. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, percepatan implementasi perdagangan karbon tidak terlepas dari dukungan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, komitmen Presiden Prabowo menjadi faktor penting dalam mendorong terealisasinya kebijakan tersebut.
“Tentu ucapan apresiasi dan terima kasih kita sampaikan kepada Pak Presiden Prabowo yang sekali lagi membuat sesuatu yang rasanya tidak mungkin menjadi mungkin, yang dulu omon-omon menjadi suatu hal yang bisa kita realisasikan,” kata Raja Juli saat peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di Jakarta, Kamis (9/7).
Implementasi perdagangan karbon mulai dijalankan setelah Kementerian Kehutanan menerbitkan izin kepada empat pemegang Persetujuan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) untuk melakukan transaksi karbon. Empat pihak tersebut terdiri atas tiga pemegang PBPH konsesi dan satu pengelola perhutanan sosial.
Ia menegaskan, Kementerian Kehutanan akan terus memperluas cakupan perdagangan karbon agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pihak, baik pelaku usaha maupun masyarakat yang mengelola kawasan hutan. Kebijakan ini juga diharapkan mampu memperkuat upaya pelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Termasuk 8,3 juta hektare perhutanan sosial kita akan bisa menikmati proses perdagangan karbon ini, termasuk 1,4 juta hektare hutan adat yang juga akan kita berdayakan bersama,” ujarnya.
Pada hari yang sama, pemerintah secara resmi meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Terlebih, pada 6 Juli 2026, Kementerian Kehutanan menjadi kementerian pertama yang mengimplementasikan perdagangan karbon melalui penerbitan Persetujuan Menteri Kehutanan mengenai penerbitan unit karbon dengan skema Non Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (Non SPE-GRK).
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pembangunan ekonomi hijau di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui implementasi perdagangan karbon, pemerintah berharap upaya pelestarian hutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan nilai ekonomi bagi pengelola hutan dan masyarakat sekitar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Ditjen Dukcapil Kemendagri Perbarui Aplikasi Identitas Kependudukan Digital
4 Tips Komunikasi Untuk Kepribadian Introvert Agar Pandai Bicara dengan Orang Lain Menurut Psikologi
Shin Tae-yong Absen saat Persija lawan Persebaya karena Terdiagnosis Flu Tipe A
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor Persita Tangerang vs Isenmulang: Pendekar Cisadane Bidik Pesta 3 Gol
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022