Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Juni 2026 | 18.23 WIB

Benarkah Gas Radon Bisa Deteksi Gempa Bumi? Ahli dari IABI Daryono Ungkap Faktanya

Ilustrasi seismograf yang merekam aktivitas gempa bumi Foto: (Gulf News) - Image

Ilustrasi seismograf yang merekam aktivitas gempa bumi Foto: (Gulf News)

JawaPos.com - Potensi penggunaan gas radon sebagai alat pendeteksi dini gempa bumi kembali menjadi sorotan hangat di kalangan praktisi kebencanaan. Namun, benarkah pelepasan gas dari dalam bumi ini bisa menjadi indikator yang valid dan akurat?

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, membedah secara mendalam validitas ilmiah di balik metode yang sudah diteliti selama lebih dari setengah abad ini. Menurutnya, meski menjanjikan secara teoretis, ketergantungan pada satu parameter ini masih menyimpan banyak kelemahan fundamental.

Awal Mula Optimisme Gas Radon

Gagasan mengenai gas radon sebagai prekursor (tanda-tanda) gempa sejatinya bukan hal baru. Penelitian intensif telah dimulai sejak akhir tahun 1960-an. Hipotesisnya sederhana: ketika tekanan pada batuan meningkat menjelang gempa, akan muncul mikroretakan.

Secara mekanis, retakan ini membuat gas radon, hasil peluruhan uranium di dalam batu, lebih mudah lolos ke tanah, air tanah, hingga atmosfer.

"Tokoh-tokoh pionir seperti Ulomov, Tatsuo Wakita, dan John C. King sempat mencatat adanya anomali konsentrasi radon yang mendahului beberapa peristiwa gempa besar," ujar Daryono dalam keterangannya, Selasa (30/6). Catatan inilah yang sempat memicu optimisme besar di kalangan komunitas ilmiah dunia kala itu.

Terjebak Antara Sinyal Tektonik dan Cuaca

Namun, seiring bertambahnya data observasi selama puluhan tahun, para ilmuwan mulai bersikap skeptis. Validitas metode ini ditinjau ulang secara ketat.

Salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah sulitnya memisahkan sinyal tektonik murni dari gangguan (noise) lingkungan sekitar. Berdasarkan studi literatur geofisika, banyak anomali radon yang tercatat ternyata bukan dipicu oleh pergerakan lempeng bumi.

Lonjakan konsentrasi gas tersebut justru kerap dipengaruhi oleh faktor meteorologi dan hidrologi setempat, seperti curah hujan, perubahan tekanan atmosfer, kelembapan, hingga suhu udara.

Kendala Teknis Waktu Paruh yang Singkat

Selain faktor cuaca, sifat alami gas radon juga menjadi batasan serius. Radon memiliki waktu paruh yang sangat singkat, yaitu hanya sekitar 3,8 hari saja.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore