
Sudirman Said saat mengisi Forum EDUPSY Series 1.0 di Universitas Harkat Negeri pada Selasa (11/11). Dia menyinggung kepemimpinan Jenderal Soedirman sejak usia muda. (Universitas Harkat Negeri)
JawaPos.com - Kalangan masyarakat sipil, aktivis, akademisi, hingga tokoh intelektual dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan berkumpul di Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarya, pada Sabtu (30/5). Pertemuan tersebut dikemas dalam forum bertajuk 'Konferensi Republik: Meneguhkan Civil Society Pilar Republik'.
Forum ini menjadi ajang konsolidasi nasional bagi berbagai elemen masyarakat sipil. Konferensi tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bersama untuk menyatukan gagasan dan pandangan yang selama ini berkembang di berbagai lini gerakan masyarakat.
Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Sudirman Said, menilai forum tersebut memiliki makna historis penting dalam perjalanan bangsa. Menurutnya, civil society telah memainkan peran besar bahkan jauh sebelum negara terbentuk.
“Republik ini digerakkan kehadirannya oleh civil society jauh sebelum negara hadir. Makanya, kerapatan civil society harus kembali dihadirkan sebagai poros yang turut aktif berkontribusi bagi hitam-putihnya Republik," kata Sudirman Said, Jumat (29/5).
Ia menjelaskan, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat sipil yang dipimpin kelompok intelektual dan kaum terdidik selalu berada di garis depan dalam mendorong perubahan sosial dan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.
Menurutnya, kehadiran kelompok tersebut merupakan konsekuensi tidak langsung dari Politik Etis yang diterapkan pada masa kolonial. Meski jumlahnya kecil di tengah masyarakat yang kala itu masih memiliki tingkat literasi rendah, mereka mampu menjadi motor penggerak perubahan.
Ia menambahkan, kontribusi masyarakat sipil tidak hanya sebatas menjadi agen pencerahan, melainkan juga menghadirkan keteladanan melalui tindakan nyata dan pengabdian bagi bangsa.
Sudirman menyebut, perjalanan bangsa Indonesia dapat dilihat melalui tonggak sejarah yang bergerak dalam siklus tertentu dari masa ke masa.
“Mari kita cermati. Sebermula adalah tonggak ‘Berbangsa’ (1908), diikuti ‘Bersatu’ (1928), lalu ‘Merdeka’ (1945), ‘Membangun’ (1966), hingga tiba saatnya ‘Berdemokrasi’ (1998). Setelah ‘Berdemokrasi’, sepantasnyalah negeri ini makin naik kelas. Pertanyaannya, apakah hari-hari ini negeri kita sedang naik kelas?” tuturnya.
Konferensi yang berlangsung sehari penuh di kampus UGM itu akan diawali pidato pembuka oleh Wakil Rektor UGM, Arie Sujito. Setelah itu, keynote adres akan disampaikan Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat yang akan membahas hubungan civil society dan kekuasaan di tengah situasi krisis demokrasi saat ini.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
