
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Dokter Iflan Nauval menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak positif dalam membantu memenuhi kebutuhan kalori anak/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
JawaPos.com – Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) Dokter Iflan Nauval menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak positif dalam membantu memenuhi kebutuhan kalori anak, terutama di daerah pedesaan dan wilayah dengan angka stunting tinggi.
Menurut dia, secara umum MBG mampu menutup kesenjangan kebutuhan kalori harian anak yang selama ini belum terpenuhi dari konsumsi rumah tangga.
“Bagi saya ya, secara personal sebagai dokter spesialis gizi klinik, MBG itu mengisi kekosongan gap. Gap kalori, gap kebutuhan kalori anak-anak,” ujar Iflan kepada wartawan, Jumat (8/5).
Baca Juga:Persija Jakarta vs Persib Bandung: The Jakmania Ingatkan Bobotoh Untuk Tidak Nekat ke Samarinda
Dia mencontohkan, anak yang membutuhkan sekitar 1.500 kalori per hari selama ini mungkin hanya memperoleh 1.000 hingga 1.200 kalori dari rumah. Kekurangan sekitar 300 kalori itu, kata dia, dapat dipenuhi melalui program MBG.
Meski demikian, Iflan menilai ke depan program tersebut perlu diarahkan menjadi lebih tepat sasaran atau targeted.
“Kalau targeted, itu lebih bagus dan juga lebih mencakup ke golongan-golongan ekonomi yang sebenarnya dia tidak mampu untuk mengisi kalori tambahan kalori untuk anak-anaknya,” katanya.
Ia menegaskan dampak MBG sejatinya lebih terasa di wilayah pedesaan atau di 3T dibandingkan di perkotaan. “Bagus, bagus sekali. Makanya saya bilang targeted,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Iflan menekankan penanganan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi gizi melalui MBG. Menurutnya, persoalan stunting berkaitan dengan banyak faktor lain, mulai dari pemahaman masyarakat, akses air bersih, akses pangan, pemberian ASI eksklusif, hingga persiapan calon pengantin.
“Kalau hanya diharapkan pada gizi itu tidak menjawab. Ada namanya intervensi spesifik, ada intervensi sensitif,” jelasnya.
Iflan juga menyinggung pengalaman Jepang dalam menurunkan angka stunting yang disebut memerlukan waktu panjang. “Jepang itu butuh menyelesaikan stunting itu sekitar 38 tahun. Dia mulai start program stunting itu tahun 48, selesai tahun 86,” ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Newcastle Jets vs Gamba Osaka di AFC Champions League Elite: Tim Tamu Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Newcastle Jets vs Gamba Osaka: Pertahanan Rapuh Tuan Rumah Jadi Celah!
Prediksi Skor Pohang Steelers vs Johor Darul Ta’zim: Harimau Selatan Siap Terkam Tuan Rumah
Prediksi Skor Buriram United vs Beijing Guoan: The Imperial Guards Terancam Tertahan
Prediksi Skor Kyoto Sanga vs Ratchaburi: Duel Tim Pesakitan Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: Rekor Pertemuan Jadi Modal Tuan Rumah
Prediksi Skor Tenerife vs Girona: Tamu Incar Tiga Poin, Tuan Rumah Tertekan
Prediksi Skor Buriram United vs Beijing Guoan di AFC Champions League Elite: Duel Berujung Imbang
TPG Guru Non-ASN Belum Cair, PGRI Desak Kemendikdasmen dan Kemenkeu Berikan Kepastian
Prediksi Skor Atalanta vs Venezia: La Dea Diburu Krisis, Tim Tamu Lebih Mengenaskan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022