
Badan Gizi Nasional (BGN) terus mengintensifkan pendekatan berbasis komunitas dalam menyosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Istimewa)
JawaPos.com — Badan Gizi Nasional (BGN) terus mengintensifkan pendekatan berbasis komunitas dalam menyosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini ditempuh di tengah meningkatnya penyebaran informasi keliru mengenai program tersebut di ruang digital.
Plt. Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Dr. Gunalan, menyebut MBG sebagai program yang tidak semata menyasar pemenuhan gizi. Menurut dia, program ini dirancang dengan pendekatan ekosistem yang menghubungkan berbagai aktor ekonomi lokal.
“Dari hulu ke hilir, program ini melibatkan petani, nelayan, UMKM, hingga koperasi. Jadi bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga produksi dan distribusi,” ujar Gunalan dalam paparannya di kegiatan sosialisasi yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan.
Sejak awal dibuka pada 2025, MBG diarahkan untuk membangun keterkaitan antara pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi lokal. Dalam kerangka itu, konsep ekonomi sirkular di tingkat desa menjadi salah satu pijakan utama.
Namun, pelaksanaan program ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu yang mengemuka dalam diskusi adalah maraknya hoaks yang beredar di media sosial. Informasi yang tidak akurat dinilai berpotensi mengganggu pemahaman publik sekaligus kepercayaan terhadap program.
Baca Juga:Langkah BGN Evaluasi Ketat Operasional SPPG Dinilai Bisa Jaga Kepercayaan Publik Terhadap MBG
Sejumlah peserta menilai perluasan sosialisasi menjadi mendesak, terutama untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum tersentuh informasi resmi. Dalam konteks ini, komunitas diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga berperan sebagai agen edukasi.
BGN menilai, kemampuan komunitas dalam menyampaikan informasi yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi kunci untuk meredam disinformasi.
Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah juga disorot, terutama dalam memastikan aspek keamanan operasional. Perwakilan Pemerintah Kota Makassar menekankan pentingnya mitigasi risiko di dapur layanan MBG, termasuk potensi kebakaran serta pemahaman terhadap prosedur darurat.
Kegiatan sosialisasi ini juga dirangkaikan dengan Halal Bihalal, yang menjadi ruang informal untuk memperkuat komunikasi antar pemangku kepentingan.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, BGN berharap implementasi MBG tidak hanya berjalan efektif, tetapi juga mampu menjangkau lebih luas masyarakat. Program ini, pada akhirnya, diproyeksikan menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
