Petugas berupaya membuka akses yang teputus di Jorong Tantaman, Nagari Tigo Koto Silungkang Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumbar. (BNPB)
JawaPos.com - Pascabencana banjir bandang dan longsor di Pulau Sumatera, saat ini pemerintah berupaya meningkatkan upaya pemulihan. Di tiga provinsi masih menetapkan status sebagai tanggap darurat bencana, karena masih ada korban hilang yang belum ditemui, penyintas belum mendapatkan bantuan maksimal, dan daerah terisolasi belum dapat dijangkau karena rusaknya infratruktur.
Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (16/12), pukul 11.30 WIB, jumlah korban meninggal sudah mencapai 1.030 jiwa. Warga yang hilang dan masih dalam pencarian sebanyak 205 jiwa. Sedangkan penduduk yang terluka benyak tujuh ribuan.
Begitu juga dengan infrastruktur yang rusak yakni, fasilitas umum sebanyak 1.600-an, rumah ibadah (434), fasilitas kesehatan (219), Gedung atau perkantoran (290), fasilitas pendidikan (967), dan jembatan (145). Rumah yang rusak mencapai 186.488 unit dengan beragam kondisi semula. Baik rumah mewah dan tidak mewah, atau semipermanen.
Pekan lalu cuaca kembali membuat masyarakat takut. Warga di sekita Batu Busuak, Kecamatan Pauh; Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, kembali ketakutan. Pasalnya hujan deras melanda kota itu sejak Jumat malam hujan tidak henti-henti. Tak ayal aliran sungai yang berhulu di Gunung Nago kembali tinggi dan deras.
Bahkan ada warga terpaksa berjibaku menyelamatkan saudaranya yang tersapu air bah atau banjir bandang. Bagi orang Minang itu disebut galodo. Teriakan agar menjauh dari sungai terdengar lantang. Para ibu sibuk mencari anaknya agar menjadi dari sungai. Kembali kep pengungsian, duduk di pangkuannya.
Sejatinya bencana alam di Ranah Minang sudah lama diisyarakatkan dalam petuah adat. Petuah-petuah itu pun dikonvesri menjadi lagu, sehingga bencana alam di Sumatera Barat atau Minangkabau sudah menjadi lagu.
"Di kampung kami bencana alam sudah jadi lagu, sekarang lebih dari itu." Demikian dikatakan Khairul Jasmi, novelis asal Sumbar kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Ungkapan itu cukup beralasan. Ada banyak lagu-lagu minang yang dinyanyikan penyanyi lokal yang bertemakan bencana. Lagu-lagu itu berangkat dari musibah yang melanda sebelum-sebelumnya. Ada juga lagu yang tidak berjudul ke arah bencana, tetapi lirik-lirik sarat dengan rapatan soal musibah. Lagu-lagu sering dipasang di video media sosial, terutama video-video yang diunggah oleh akun-akun dari masyarakat Minang.
Mulai dari Bancano Ranah Bundo dari Bigheru, Bancano Di Kampuang Kito (Eno Viola), Galodo Kampuang jo Nagari (Indro Tanjung), Darah Taraso Baku (Rayola), dan lain sebagainya.
Dari lagu-lagu itulah masyarakat Sumbar mengabarkan kondisi alamnya kepada perantau atau kepada publik bahwa Ranah Minang semakin tidak baik-baik saja. Lagu yang meratapi itu tidak sekadar enak didengar tetapi membuat perih para sanak saudara mereka di tanah rantau. Syukur-syukur perih itu didengar para pemangku kepentingan untuk bersikap lebih sigap lagi.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
