
Siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 03 Jati Pulogadung, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com-Pemerintah memperkuat komitmen membangun sumber daya manusia unggul melalui Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program itu untuk menekan kasus stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak sekolah dasar.
Dari sudut pandang praktisi gizi, MBG bukan sekadar program penyediaan makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi emas Indonesia 2045.
Menurut Mochammad Rizal, MS, RD, ahli Gizi yang tengah menempuh studi doktoral bidang International Nutrition di Cornell University, Amerika Serikat, program ini berpotensi besar memperbaiki kualitas hidup anak-anak Indonesia jika dijalankan dengan tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Permasalahan gizi yang ingin kita atasi bukan hanya tentang tinggi badan. MBG adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Indonesia,” ujar Mochammad Rizal melalui keterangannya.
Rizal menuturkan, Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition, stunting, anemia, dan obesitas, pada anak-anak. Terutama dari keluarga menengah ke bawah.
Dengan MBG, menurut dia, pemerintah ingin memastikan akses pangan bergizi bagi kelompok rentan agar mereka tumbuh sehat, kuat, dan produktif.
“Jika dijalankan konsisten, MBG dapat memberikan dampak berantai: anak-anak lebih sehat, semangat belajar meningkat, dan kualitas SDM di masa depan membaik,” tambah Mochammad Rizal.
Selain meningkatkan status gizi, MBG juga diharapkan menumbuhkan semangat belajar siswa. Dengan asupan makanan bergizi di sekolah, anak-anak lebih fokus dan aktif dalam kegiatan belajar.
Program ini juga berdampak positif pada ekonomi lokal, karena bahan pangan disuplai dari petani, nelayan, hingga penyedia katering lokal. Dengan begitu, manfaat program tidak hanya dirasakan anak-anak, tetapi juga masyarakat di sekitar sekolah.
Meski potensinya besar, Rizal menilai pelaksanaan MBG di lapangan tidak tanpa tantangan. Salah satunya adalah kebiasaan makan anak-anak yang terbiasa dengan makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak (ultra processed food).
“Menu sehat sering kali tidak dihabiskan karena anak-anak lebih suka makanan instan. Namun jika diganti dengan nugget atau sosis agar makanan habis, justru tujuan pemenuhan gizi jadi bergeser,” jelas Rizal.
Selain itu, beban kerja ahli gizi dan keamanan pangan juga menjadi perhatian.
“Rasio satu ahli gizi yang harus memantau hingga 3.000–4.000 porsi jelas berat. Namun, adanya regulasi baru yang membatasi produksi maksimal 2.000 porsi per satuan penyediaan adalah langkah perbaikan yang baik,” beber Mochammad Rizal.
Rizal menilai, keberhasilan MBG juga bergantung pada edukasi berkelanjutan tentang gizi seimbang, baik kepada siswa maupun keluarga.
“Selain menyediakan makanan, penting juga menanamkan pemahaman tentang pola makan sehat. Itu yang akan membentuk perilaku makan anak di masa depan,” ujar Mochammad Rizal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022