Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Oktober 2025 | 04.09 WIB

Kompetisi Baca Kitab Kuning Internasional Digelar di Wajo, jadi Ajang Diplomasi Budaya Ala Pesantren

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pembukaan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 di Wajo, Sulawesi Selatan (2/10). (Humas Kemenag) - Image

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pembukaan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 di Wajo, Sulawesi Selatan (2/10). (Humas Kemenag)

JawaPos.com - Kompetisi membaca kitab kuning di kalangan santri tahun ini spesial. Karena perdana diikuti peserta dari luar negeri. Kementerian Agama (Kemenag) selaku penyelenggara menjadikan ajang Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 itu sebagai ajang diplomasi budaya.

Kegiatan yang dipusatkan di Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan itu dibuka secara resmi oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Total ada 798 santri dalam negeri yang ikut berkompetisi. Selain itu ada 20 peserta dari negara-negara ASEAN yang ikut adu jago membaca kitab kuning.

Nasaruddin menyampaikan MQK Internasional adalah diplomasi budaya. Khususnya budaya di pesantren untuk meneguhkan Islam rahmatan lil-alamin di mata dunia. Kegiatan MQK Internasional itu sekaligus memperingati Hari Santri Nasional 2025.

Pesantren adalah poros perdamaian," kata Nasaruddin. Imam Besar Masjid Istiqlal itu ingin menunjukkan bahwa Islam di Indonesia tumbuh melalui dakwah yang ramah, penuh persaudaraan, dan menghormati budaya.

Selain itu, Nasaruddin mengatakan ajang MQK Internasional 2025 jadi kampanye untuk menggali pesan-pesan menjaga alam atau lingkungan dari kitab turats atau kitab kuning. "Mari kita bersama-sama menggali pesan-pesan penting di dalam kitab turats," jelasnya.

Dia mengatakan, MQK Internasional 2025 kali ini mengusung tema merawat lingkungan dan menebar perdamaian. Nasaruddin menegaskan bahwa MQK bukan sekadar ajang perlombaan membaca kitab kuning saja. Tetapi wadah silaturahmi ulama, santri, dan akademisi lintas negara.

"Kaitannya dengan perubahan iklim dan persoalan perang yang harus segera diakhiri," kata dia. Nasaruddin mengungkap bahaya atau dampak perubahan iklim lebih parah ketimbang perang. Dia menyebutkan perang menelan 67 ribu korban jiwa per tahun. Sedangkan perubahan iklim telah merenggut hingga empat juta jiwa per tahun.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menyampaikan bahwa MQK tahun ini menghadirkan tiga hal penting. Yaitu MQK untuk pertama kali digelar di level internasional dengan melibatkan negara-negara ASEAN.

Kemudian seluruh mekanisme pelaksanaan berbasis digital. Mulai dari seleksi, input nilai, hingga penyediaan teks kitab. “Ketiga, MQK tahun ini diselenggarakan di kawasan Indonesia Timur, tepatnya di Pesantren As’adiyah Wajo,” papar Amien.

MQK Internasional perdana ini diikuti 798 santri semifinalis dari seluruh Indonesia. Selain itu ada 20 peserta dari tujuh negara ASEAN. Dua negara ASEAN yaitu Thailand dan Filipina tetap dilibatkan. Namun mereka hadir sebagai observer. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore