
Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. (Dok. Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah)
JawaPos.com - Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ricky Avenzora, menilai perkembangan pariwisata Indonesia selama beberapa dekade terakhir masih jauh dari optimal dan tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.
“Kita memiliki ratusan gunung berapi, garis pantai yang panjang, satwa endemik seperti gajah, harimau, dan badak, serta ribuan spesies burung. Semua ini adalah potensi besar, tetapi yang muncul justru konflik antara satwa liar dan manusia," kata Ricky dalam keterangannya, Minggu (28/9).
Ia menekankan, setidaknya ada tiga persoalan utama dalam pembangunan pariwisata nasional. Pertama, jumlah devisa dan wisatawan yang dihasilkan masih kalah dari negara tetangga. Kedua, potensi alam dan budaya justru banyak mengalami kerusakan. Ketiga, distribusi manfaat pariwisata tidak merata.
“Rekreasi dan pariwisata tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebebasan perjalanan. Harus diubah menjadi perjalanan berkesadaran ilahiah untuk mencari jati diri sekaligus memberi manfaat bagi semesta. Itulah yang disebut ekowisata," jelasnya.
Ricky juga mengkritik kebijakan penyegelan dan pembongkaran sejumlah lokasi wisata di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Ia menilai langkah itu tergesa-gesa dan cenderung menjadi bentuk penyalahgunaan kewenangan.
“Perihal Puncak, kebijakan Menteri Lingkungan Hidup saya kategorikan salah satu bentuk individual over acting dan juga bentuk dari abuse of power, karena terlihat grasak-grusuk untuk cawe-cawe secara tidak bijaksana," tegasnya.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak dilakukan dengan prosedur yang tepat sehingga berdampak luas bagi masyarakat serta pelaku usaha. Ia menegaskan praktik semacam itu tidak boleh diulang oleh siapa pun.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar hak usaha para pelaku pariwisata dikembalikan serta didukung pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat. Menurutnya, pemerintah semestinya memberi dukungan penuh dalam segala hal, dan jika ada kekurangan dari pihak swasta, sebaiknya diarahkan serta dibimbing dengan bijak.
“Pola hentikan dan bongkar adalah bentuk arogansi jabatan yang secara hukum tidak dibenarkan serta secara sosial-ekonomi sangat merugikan masyarakat luas dan juga negara,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022