
ILUSTRASI Petani.
JawaPos.com – Pusat Studi Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebut bahwa keterlibatan pemerintah yang terlalu dalam dalam pengaturan komoditas pertanian justru berpotensi membuat petani semakin miskin.
CEO CIPS Anton Rizki Sulaiman menyatakan bahwa petani cenderung lebih merugi ketika komoditas mereka terlalu banyak diatur negara dibandingkan dengan komoditas yang bergerak secara bebas di pasar.
“Kalau dalam hipotesis kita, petani itu lebih miskin di komoditas yang diatur pemerintah,” ujar Anton saat berbincang dengan JawaPos.com, di Graha Pena Jakarta, Kamis (31/7).
Ia mencontohkan beberapa komoditas strategis seperti beras, jagung, bawang merah, bawang putih, hingga cabai yang saat ini menjadi fokus pemerintah. Menurutnya, di komoditas-komoditas tersebut, intervensi negara terlalu besar, sehingga membatasi ruang gerak petani dalam mendapatkan keuntungan maksimal dari pasar.
Sebaliknya, Anton menilai bahwa komoditas yang tidak terlalu diatur pemerintah, seperti sayur-sayuran bernilai tinggi, justru memberikan lebih banyak peluang bagi petani untuk mendapatkan pendapatan lebih baik.
“Di komoditas yang tidak terlalu banyak diatur, pasar bisa bermain lebih luas. Di sana mulai muncul model seperti contract farming, yang sangat menguntungkan bagi petani,” tambahnya.
Konsep contract farming, lanjut Anton, memungkinkan perusahaan melakukan kontrak langsung dengan petani. Perusahaan menetapkan jumlah produksi yang dibutuhkan, harga, dan standar kualitas sejak awal. Dengan skema ini, petani mendapat kepastian pasar dan harga, sekaligus bisa meningkatkan kualitas produksinya.
Ia mencontohkan keberhasilan model ini pada komoditas tembakau dan susu, seperti yang terlihat di wilayah Jakarta Timur, di mana peternak sapi perah yang terikat kontrak dengan pabrik memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik.
“Intinya, kalau market-nya hidup, petani akan semakin diuntungkan. Semakin sedikit pemerintah bermain, maka akan semakin bagus,” tegas Anton.
Ia juga menyebut bahwa pada komoditas seperti kopi dan kakao, ketakutan akan intervensi justru menahan potensi pertumbuhan yang lebih besar.
CIPS tengah mengkaji lebih dalam perbandingan antara kelompok petani yang memiliki akses ke pasar melalui kontrak dengan perusahaan, dengan kelompok yang bergantung pada mekanisme pemerintah. Studi ini diharapkan bisa menjadi masukan penting dalam merumuskan kebijakan pertanian yang lebih berpihak pada kesejahteraan petani.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
