Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Juni 2026 | 00.29 WIB

Harga Pupuk Turun dan Petani Menguat, Menteri Transmigrasi Percepat Kemajuan Kawasan

Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo. (Kementerian Transmigrasi) - Image

Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo. (Kementerian Transmigrasi)

JawaPos.com - Harga pupuk tercatat turun 20 persen. Penurunan ini membuat Nilai Tukar Petani mencapai 127 persen, dan produksi pangan Indonesia mencapai 38 juta ton.

Dalam Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo, Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus berpihak kepada petani dan nelayan. Negara tidak boleh ketergantungan terus menerus terhadap impor.

"Para petani dan nelayan adalah penghasil makanan, penghasil pangan. Tidak ada negara bisa berdiri, tidak ada negara bisa bertahan, bahkan tidak ada peradaban yang bisa bertahan tanpa pangan,” kata Presiden Prabowo. 

Ketua Umum Partai Gerindra itu menyampaikan, Indonesia telah mencapai swasembada beras dan jagung. Tingkat produksinya sudah menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Sementara, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, arah Presiden tersebut membuka ruang kerja yang sangat jelas. Transmigrasi harus menjadi instrumen pembangunan kawasan yang mampu memperluas basis produksi pangan nasional. 

“Melalui transmigrasi, kita ingin mendatangkan pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia terbaik untuk membantu masyarakat Papua mengelola potensi yang mereka miliki. Bukan sekadar memindahkan orang, tetapi menghadirkan kapasitas dan kesempatan yang dapat mempercepat kemajuan kawasan,” kata Iftitah.

PENAS XVII juga menampilkan inovasi teknologi pertanian, termasuk pola tanam dengan jarak lebih rapat yang dilaporkan dapat meningkatkan produksi gabah dari sekitar 5 hingga 5,5 ton per hektare menjadi 10 hingga 12 ton per hektare. Inovasi seperti ini penting untuk dibawa ke kawasan transmigrasi agar masyarakat tidak hanya bertani, tetapi bertani dengan produktivitas yang lebih tinggi.

Kementerian Transmigrasi menilai masa depan kawasan transmigrasi terletak pada kemampuannya menjadi kawasan ekonomi yang modern, produktif, dan terhubung dengan pasar. Transmigrasi harus bergerak dari pendekatan administratif menuju pendekatan produktif berbasis data, teknologi, kelembagaan, dan komoditas unggulan.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore