
Plt Asintel Kejati Banten Aditya Rakatama didampingi Dirut Paskomnas Hartono menjelaskan program Jaga Desa di Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Banten, Rabu (16/7). (Zalzilatul Hikmia/jawa Pos)
JawaPos.com – Program ketahanan pangan Jaksa Garda Desa (Jaga Desa) yang digagas Kejaksaan Agung (Kejagung) terus bergulir. Sebanyak empat kabupaten di Provinsi Banten terlibat dalam program yang bertujuan mendorong desa-desa untuk mandiri itu. Empat pemda itu adalah Kabupaten Tangerang, Serang, Pandeglang, dan Lebak.
Plt Asisten Intelijen (Asintel) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten Aditya Rakatama mengungkapkan, pihaknya telah mengadakan rapat teknis dengan empat pemda di Banten. Dari pertemuan tersebut, terungkap sejumlah kendala dan kekhawatiran pemda mengenai rencana pelaksanaan program ketahanan pangan.
Misalnya, ada keluhan soal BUMDes yang ternyata tidak sepenuhnya aktif. Ada pula keluhan soal SDM BUMDes yang dirasa kurang. Muncul juga kekhawatiran mengenai penggunaan dana desa yang sudah dianggarkan untuk sejumlah program pertanian dan peternakan lain sebelum adanya intervensi program pengaturan pola tanam yang disampaikan oleh PT Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia.
”Makanya kita punya Jaga Desa, artinya Jaksa Garda Desa. Nah itu, kita fungsinya mengawal penggunaan dana desa. Permendes 2 tahun 2024 kan sudah mengamanahkan bahwa 20 persen dari nilai dana desa dipergunakan untuk ketahanan pangan.
Artinya, kita harus bisa memastikan bahwa dana 20 persen tadi dipergunakan sebagaimana mestinya,” paparnya di sela-sela Rapat Tindak Lanjut Program Jaga Desa Provinsi Banten di Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (16/7).
Dalam rapat teknis itu dijelaskan secara rinci mengenai timeline penanaman komoditi utama di empat kabupaten/kota ini. Kapan mereka mulai menanam hingga pengiriman pasokan ke Pasar Induk Tanah Tinggi Kota Tangerang.
Menurut Raka, sapaan akrabnya, akan ada rapat lanjutan pada akhir Juli mengenai kesiapan lahan dari empat pemerintah kabupaten tersebut. Baik itu soal lokasi, luasan, hingga BUMDes yang terlibat. Setelah itu, Telkom University akan mengecek unsur hara lahan untuk memastikan lahan tersebut butuh pupuk atau tidak. Kebutuhan ini akan dikoordinasikan dengan PT Pupuk Indonesia.
Sebagai tahap awal, komoditi yang ditanam adalah bawang merah. Penanaman menggunakan TSS bawang merah yang dinilai akan ekonomis. Direktur Utama Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia, Hartono Wignjopranoto meyakini program Jaga Desa bisa meningkatkan penghasilan para petani. Karena itu, butuh keseriusan dan kerja sama semua pihak, khusus nya pemerintah daerah dalam pelaksanaannya.
Apalagi, saat ini, dari potensi Banten yang begitu besar, pasokan komoditi yang ada di pasar induk itu hanya sekitar 5 persen dari sekitar 3.000 sampai 3.500 ton. Yang mana, kebanyakan pasokan ini berasal dari luar Banten. “Padahal, menurut kami, minimum bisa 20 persen yang bisa dipasok dari Banten,” ujarnya. (mia/oni)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
