Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 Juli 2025 | 15.28 WIB

Gerakannya Viral dan Diperagakan Pemain Bola Top Eropa, Penari Pacu Jalur Rayyan Arkan Dikha Mengaku Bangga dan Bahagia

Penari tradisi Pacu Jalur Rayyan Arkan Dikha (depan) memperagakan gerakannya yang viral di dunia di depan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta. (Humas Kementerian Kebudayaan) - Image

Penari tradisi Pacu Jalur Rayyan Arkan Dikha (depan) memperagakan gerakannya yang viral di dunia di depan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta. (Humas Kementerian Kebudayaan)

JawaPos.com - Belakangan gerakan atau tarian tradisi Jalur Pacu viral di dunia. Bahkan diperagakan oleh sejumlah pemain bola papan atas di Eropa. Mulai dari pemain klub Manchester United (MU), PSG, dan lainnya. Rayyan Arkan Dikha yang mempopulerkan gerakan tersebut mengaku bangga. 

Secara khusus Dikha diundang oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon ke Jakarta pada (9/7) siang. Dia sempat mengajak Fadli Zon dan pejabat lainnya untuk melakukan Aura Farming bersama-sama. Dia begitu lincah menari layaknya sedang berada di kapal tradisi Jalur Pacu. Namun saat itu dia berdiri di kursi. 

Dikha mengatakan bangga gerakannya viral sampai penjuru dunia. “Perasaan (saya) gembira mengetahui viral mendunia,” kata bocah kelas 5 SD itu. Dia mengatakan akan terus melestarikan tradisi tanah kelahirannya itu. Supaya bisa terus dikenal masyarakat dunia. 

Sementara itu Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan, bahwa tradisi Pacu Jalur telah lama ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pacu Jalur tercatat sebagai WBTb Indonesia berdasarkan SK Penetapan nomor 186/M/2015 berasal dari Provinsi Riau. Penetapan ini bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum dan pengakuan nasional terhadap budaya lokal.  

“Kita sangat apresiasi, menghargai apa yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dengan Pacu Jalur yang sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2015,” tutur Fadli.

Fadli mendorong diskusi kebudayaan dapat terus berkembang di masyarakat tak hanya di dalam negeri tetapi di panggung global.  “Ini adalah satu ekspresi budaya yang memang diharapkan bisa menginternasionalisasikan ekspresi budaya kita,” tegasnya. 

Inisiasi inskripsi Pacu Jalur sebagai Warisan Budaya Takbenda yang diakui UNESCO juga dibahas dalam forum itu. Disampaikan langsung oleh Menbud Fadli Zon, dirinya menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan yang akan berupaya untuk memperjuangkan Pacu Jalur sebagai WBTb dunia.  

“Memang antrian cukup banyak, namun ini merupakan bagian dari tradisi budaya yang panjang ratusan tahun," katanya. Tetapi pemerintah Indonesia terus berharap bisa memperjuangkannya. bisa kita perjuangkan, kita buatkan kajian, naskah akademik, serta dossier.

Fadli berharap tradisi ini dapat terus berlangsung. Sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan yang tak hanya menyasar seni, tetapi juga permainan tradisional, olahraga rakyat, pangan lokal, ritus, manuskrip, sastra, tradisi lisan, dan lain-lain. 

Lebih dari sekadar olahraga air, Pacu Jalur merupakan ekspresi budaya yang sarat nilai-nilai spiritual, sosial, dan historis. Pacu Jalur berasal dari kata pacu yang berarti lomba atau kejar dan jalur yang merujuk pada perahu kayu sepanjang 25-40 meter memuat 50-73 orang pendayung. Proses pembuatan jalur melibatkan ritual adat dan semangat gotong royong, mencerminkan nilai budaya yang hidup dan mengakar kuat pada masyarakat Kuantan Singingi.

Dalam kesempatan yang sama, apresiasi juga disampaikan langsung oleh Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby kepada Menteri Kebudayaan. Karena telah memberi ruang bagi Pacu Jalur untuk dilestarikan dan dipromosikan lebih luas di kancah global.  

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Menteri," tegasnya. Karena sudah memberikan ruang kepada merekabuntuk menyampaikan langsung sebuah budaya yang sudah mentradisi di Provinsi Riau. Serta menjadi milik Indonesia pada umumnya. 

Bupati Suhardiman lantas menceritakan perjalanan Pacu Jalur dari masa ke masa. Tahun ini Pacu Jalur mencapai usia 120 tahun. Tradisi ini pertama kali diperkenalkan pada masa penjajahan Belanda tahun 1905 silam. 

Awalnya jalur digunakan untuk mengangkut kebutuhan sehari-hari. Kemudian tradisi ini berkembang menjadi perlombaan perahu yang dipersembahkan untuk Ratu Wilhelmina setiap tahunnya pada 31 Agustus. Setelah Indonesia merdeka, Pacu Jalur berubah fungsi menjadi ajang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia, yang rutin diselenggarakan setiap bulan Agustus dan kini menjadi agenda nasional. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore