
Sejumlah guru besar dan aluminium Fakultas Kedokteran (FK) UI menggelar mimbar bebas Salemba Bergerak di Aula IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (20/05/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Para Guru Besar Fakultas Kedokteran kembali melakukan aksi untuk memprotes Kementerian Kesehatan. Ada 372 guru besar FK seluruh Indonesia yang melakukan aksi di berbagai universitas.
Aksi ini runutan dari aksi yang digelar pada 16 dan 20 Mei lalu. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani 372 Guru Besar Kedokteran Indonesia, mereka menyerukan ada tindakan nyata dari pemerintah atas aksi yang dilakukan selama ini.
Selain itu, dalam surat tersebut juga menyatakan bahwa para guru besar ini tidak dapat mengembalikan kepercayaan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Khususnya untuk memimpin reformasi dan tata kelola kesehatan yang inklusif, adil, dan berlandaskan bukti serta kebijaksanaan kolektif bangsa dalam mencapai tujuan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ketua Senat Akademik UI Prof dr Budi Wiweko SpOG menyatakan bahwa aksi kedua yang digelar kurang dari sebulan dari aksi yang pertama karena mengingat urgensi yang ada.
Dia menyebutkan kebijakan Kemenkes sekarang mengancam ekosistem pendidikan kedokteran. “Nantinya juga akan mengancam pelayanan kesehatan,” tuturnya sesuai membacakan seruan di FK UI, Kamis (12/6).
Alasannya, kebijakan Kemenkes telah mengkotakkan antara pendidikan dan pelayanan kesehatan, padahal dua hal ini saling berkaitan.
Aksi di FKUI hari ini, tidak hanya dihadiri oleh guru besar dan civitas akademika FK saja. Namun ada guru besar dari fakultas lain, yakni Guru Besar Antropologi Hukum Fakultas Hukum UI prof dr Sulityowati Irianto.
Dia menyatakan para guru besar ini kembali bersuara karena insan kedokteran khawatir dengan intervensi Menkes.
“Barangkali ini bukan yang kedua, akan ada suara berikutnya. Kami sedang mengatakan tidak percaya lagi segala kebijakan yang sudah dikeluarkan itu. Mungkin kebijakan itu punya legalitas, tapi kehilangan legitimasi sosial karena kami tidak mempercayainya lagi,” ucapnya.
Guru Besar FKUI lainnya Prof dr Teddy Prasetyono SpBP(K) menyatakan bahwa tidak terlihat ada perubahan yang terjadi setelah adanya tuntutan terhadap Kemenkes.
Tuntutan itu antara lain terkait independensi kolegium dan otonomi perguruan tinggi. “Kami menyatakan sulit bagi kami memberikan kepercayaan dalam kemajuan pembangunan di dunia kesehatan,” ucapnya.
Ketika ditanya apakah jika ke depan ada undangan untuk diskusi dari Kemenkes mereka akan datang, Teddy tidak menjawab dengan pasti.
“Kalau jadi anak, waktu bapaknya tidak percaya, kan susah,” ucapnya. Memang sebelumnya Kemenkes telah mengundang dekan dan guru besar fakultas kedokteran tapi mereka memilih untuk absen dalam undangan tersebut.
Sementara itu Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyatakan bahwa Kemenkes menghargai aspirasi guru besar fakultas kedokteran yang disampaikan secara terbuka.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
