Mentan Andi Amran Sulaiman menjelaskan tentang anomali data sirkulasi beras di Pasar Induk Beras Cipinang di kantor Kementan (3/6). (Istimewa).
JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) membongkar anomali data sirkulasi beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Biasanya beras keluar hanya sekitar 2.000 sampai 3.000 ton per hari, mendadak naik jadi 11.400 ton lebih dalam sehari. Angka beras keluar yang tidak wajar itu diduga perbuatan mafia beras.
Upaya Kementan membongkar praktik kotor mafia beras itu mendapatkan reapon positif dari berbagai kalangan. Diantara disampaikan Pusat Pengkajian Agraria dan Sumber Daya Alam (PPASDA).
Direktur Eksekutif PPASDA Muhammad Irvan Mahmud Asia mengatakan keberanian Mentan Andi Amran Sulaiman membongkar mafia beras adalah tonggak penting dalam menciptakan keadilan harga. Selain itu juga menjaga ekosistem pangan nasional untuk perlindungan petani dan rakyat kecil sebagai konsumen.
“Di tengah surplus beras dan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Bulog 4 juta ton dan rata-rata harga beras ditingkat penggilingan turun, maka kekurangan dan kenaikan harga beras di pasar seperti Cipinang tidak masuk akal," ungkap Irvan dalam keterangannya Kamis (5/6).
Menurut dia, sudah terlalu lama jaringan mafia beras menikmati praktik curang. Maka saat inilah waktu yang tepat untuk menindak siapapun yang terbukti mempermainkan harga beras. Dia menekankan secara hukum praktik mempermainkan harga beras seperti itu, harus diproses sampai keakarnya.
“Kami melihat harapan ketika pemerintahan Presiden Prabowo, melalui Kementan, membongkar praktik mafia beras," katanya. Mereka mendukung penuh dan selalu bersama Kementan untuk membersihkan tata niaga beras dan komoditas pangan lainnya.
Irvan menilai mafia beras adalah musuh bersama bangsa Indonesia. Kami mendukung penuh tindakan Mentan Amran dan mendorong agar masalah mafia beras itu dikawal sampai tuntas.
“Untuk kepentingan nasional jangka panjang maka perlu dibarengi dengan perbaikan sistem distribusi pangan, transparansi rantai pasok, perlindungan harga bagi petani dan konsumen," tambah Irvan.
Lebih lanjut PPASDA mendorong pemerintah untuk melibatkan organisasi petani dalam pengawasan distribusi dan penyusunan kebijakan di tingkat hilir. Mereka berpesan jangan memberi ruang bagi para spekulan untuk bermain di atas penderitaan petani dan konsumen.
“Kejadian (anomali data di Cipinang) ini harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mewujudkan tata kelola pangan yang adil, transparan, dan berdaulat," tegas Irvan. (wan)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022