
Kapten Persib Bandubg, Marc Klok bersama dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat konvoi dan perayaan juara Liga 1 2024/2025. (Dok: Instagram dedimulyadi)
JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali buka suara perihal sikapnya yang marah terhadap suporter klub sepak bola di Subang yakni Persikas. Hal ini sempat viral di dunia maya.
Sembari berolahraga pagi di area sawah dekat kediamannya, Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, dirinya menjelaskan alasan yang membuatnya marah.
Menurutnya, Persikas merupakan klub profesional yang dikelola oleh perusahaan. Tentunya perusahaan tersebut harus pertimbangkan aspek keuangan dan manajerial.
Lantaran profesional, pemerintah daerah tak boleh ikut campur dalam pengelolaan klub. Apabila memang ingin memberikan dukungan, hanya terbatas pada sarana dan prasarana.
"Andaikata pun memberi bantuan, bantuannya harus bersifat pribadi tidak boleh menggunakan keuangan negara," kata Dedi Mulyadi dilansir dari Instagram @dedimulyadi71, Jumat (30/5).
Dia juga menjelaskan mengenai aksi suporter yang membentangkan spanduk bertuliskan ‘Selamatkan Persikas!’ sembari berteriak pada acara ‘Nganjang ka Warga. Aksi ini timbulkan kemarahan lantaran dilakukan di tengah-tengah dirinya mendengar kisah pilu warga saat mengarungi hidupnya.
Adapun para suporter yang masih remaja itu diduga telah terkoordinir dan datang dari sejumlah tempat di Kabupaten Subang. Bahkan, beberapa dari mereka masih menginjak bangku SMP.
"Anak-anak itu tidak mandiri, mereka berkumpul dari berbagai tempat dengan jarak yang sangat jauh ada yang satu desa, ada yang satu kecamatan ada yang berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Subang sehingga mereka terkoordinasi dengan baik membentangkan spanduk yang direncanakan dengan baik," jelas Dedi.
Dedi beranggapan terdapat kekuatan politik yang mengendalikan sepak bola di balik ini. Oleh karenanya ia sangat menyayangkan tindakan yang mempolitisi anak di bawah umur.
"Kekuatan politik di balik ini adalah kekuatan politik yang menggunakan sepakbola sebagai bagian dari kekuatan politik, untuk itu gak boleh mempolitisi praktis menggunakan sepakbola sebagai kekuatan politik, apalagi mempolitisi anak-anak kecil yang usia masih remaja malam-malam menggunakan kendaraan bermotor dengan jarak yang sangat jauh, ini sangat berbahaya," tukas dia.
Tak hanya itu, Dedi Mulyadi juga tampak tak peduli apabila sikap marahnya mempengaruhi citra dirinya sebagai seorang pemimpin.
"Persoalan kemudian banyak kamera yang menyorot kemudian menjadi gorengan politik membuat citra buruk gak ada masalah bagi saya, saya bukan mencari citra, saya hidup ini bekerja untuk kepentingan rakyat, hidup ini juga untuk memperbaiki sikap mental warga saya yang tidak bisa menempatkan diri dengan baik apalagi usianya masih remaja," tutup Gubernur Jawa Barat itu.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
