Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Agustus 2024 | 16.16 WIB

DPR Desak Tradisi Bullying Dokter Residensi Distop, Arzeti Bilbina: Putus Mata Rantainya!  

Diary Aulia Risma Lestari (radarmagelang.id) - Image

Diary Aulia Risma Lestari (radarmagelang.id)

JawaPos.com – Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina mendesak Pemerintah untuk segera mengambil langkah komprehensif, untuk menghentikan praktik bullying pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Kasus bullying di PPDS menjadi sorotan lagi setelah ada kasus kematian dokter peserta PPDS dari jurusan spesialis Anestesi di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Semarang.

"Tindakan bullying adalah peristiwa yang sangat tragis dan menyedihkan. Jangan sampai ada pembiaran bullying di lingkungan pendidikan. Harus segera dihentikan dengan putus mata rantainya," kata Arzeti kepada wartawan, Selasa (20/8). 

Sebelumnya, dr. Aulia Risma Lestari, mahasiswi Kedokteran Undip ditemukan tewas di kamar kosnya di Lempongsari, Kota Semarang. Aulia diduga mengakhiri hidupnya dengan cara menyuntikkan obat penenang, karena tidak kuat terhadap bullying dari dokter seniornya.

Belakangan, pihak keluarga membantah Aulia bunuh diri. Korban disebut memiliki riwayat sakit syaraf kejepit. Sehingga diduga Aulia menyuntikkan sendiri obat anestesi dengan dosis berlebih saat merasa sakit.

Meski begitu, curhatan dr. Aulia melalui buku harian yang ditemukan di kamar kosnya membuka tabir bullying yang dilakukan seniornya. Akibat kasus itu, Kemenkes menghentikan sementara program anestesi FK Undip untuk melakukan investigasi terkait kasus bunuh diri peserta didik PPDS itu.

Arzeti menyatakan dukungannya pada langkah Kemenkes. Apalagi masalah bullying di lingkungan PPDS memang sudah menjadi momok dalam dunia pendidikan kedokteran di tanah air. Seperti Aulia yang dalam buku hariannya menceritakan tidak kuat menahan tekanan dari para dokter senior. 

Kasus Aulia juga berefek panjang. Di media sosial, kisah-kisah yang membongkar kasus bullying yang ada di PPDS mulai diungkapkan. Mulai dari disuruh beli makan senior, hukuman fisik, hingga ada 'jatah istri residen' kepada senior.

Ada pula laporan peserta PPDS atau residen spesialis yang harus mengakomodir biaya pesta maupun perjalanan senior dengan pesawat hingga seratusan juta.

Media sosial juga dihebohkan terkait adanya temuan buku pedoman bullying. Pada buku tersebut mencantumkan sejumlah aturan tata krama junior, serta tugas-tugas apa saja yang tidak boleh dilewatkan selama PPDS berlangsung.

"Penting bagi Pemerintah bekerja sama dengan pihak berwajib seperti kepolisian untuk mengambil langkah-langkah proaktif dalam mencegah bullying. Kita harus kuat untuk memberikan informasi agar pelaku betul-betul diberikan efek jera," pungkas Arzeti. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore