Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 April 2024 | 03.47 WIB

Benarkah Awan Kumulus Menghilang Selama Gerhana Matahari Terjadi? Cek Faktanya!

Ilustrasi - Gerhana matahari hibrid (GMH). ANTARA/HO-BMKG/am.

JawaPos.com - Gerhana matahari total akan terjadi besok, Senin (8/4) di Amerika, Eropa Barat, Samudera Pasifik, Atlantik, dan Arktik. Ketika peristiwa ini terjadi, apakah kalian sadar jika awan kumulus turut menghilang ketika gerhana matahari dimulai

Fenomena astronomi ini memang menarik perhatian banyak orang. Awan kumulus di atas daratan kerap menghilang ketika gerhana terjadi. Bagaimana penjelasannya? Berikut faktanya menurut Forbes.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan awan kumulus yang rendah akan menghilang ketika 15 persen bagian matahari tertutupi oleh bulan. Hal tersebut dikarenakan awan kumulus yang berada di atas daratan sensitif terhadap gerhana matahari.

Para peneliti juga melakukan simulasi muncul dan hilangnya awan. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa gerhana matahari sebagian memengaruhi kenaikan udara.

Sementara itu, jika berada di atas laut maka tidak ada pengaruh antara awan dengan gerhana matahari. Hal ini karena air laut yang tidak mendingin secara cepat.

Ditambahkan dari Live Science juga, peneliti menemukan bahwa tutupan awan kumulus rata-rata turun lebih dari empat kali lipat. Hal tersebut ditemukan ketika gerhana bulan cincin terjadi akhir-akhir ini. Tepatnya, ketika bayangan bulan tengah melewati bumi.

Awan kumulus tingkat rendah cenderung muncul pada ketinggian sekitar 2 km (1,2 mil) dan sangat dipengaruhi oleh tingkat pudarnya cahaya matahari. Tutupan awan ini berkurang sekitar ketika 15 persen permukaan matahari tertutup. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 30 menit setelah gerhana dimulai.

Awan akan mulai kembali sekitar 50 menit setelah pudarnya cahaya matahari secara maksimum. Meskipun tutupan awan umumnya hanya sekitar 40 persen saat kondisi gerhana, kurang dari 10 persen langit tertutup awan selama pudarnya cahaya matahari yang maksimal. Pada skala besar, awan kumulus akan mulai menghilang.

Gerhana matahari memang jarang terjadi. Biasanya peristiwa ini akan terjadi antara dua hingga lima kali per tahun. Akibatnya, fenomena tersebut memberikan peluang besar untuk penyelidikan ilmiah secara lanjut.

Fenomena gerhana matahari juga adalah peristiwa yang unik. Keunikan inilah membuat peneliti mempelajari apa yang terjadi ketika sinar matahari sedang dikaburkan dengan cepat. Hal tersebut diucapkan oleh ahli geosains di Delft University of Technology di Belanda, Victor JH Trees.

Editor: Nicolaus Ade
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore