
PERJALANAN PANJANG: Pak Midun di depan SUGBK Jakarta, Senin (14/8). Dia tidak diizinkan membawa sepedanya masuk ke dalam kompleks.
JawaPos.com - "Bagaimana mau menyuarakan (keresahan, Red) ? Wong mau masuk saja nggak boleh. Pintunya kuat. Apalagi pintu pintu yang lain". Itulah ungkapan kekecewaan Miftahudin Ramli alias Midun di depan pintu gerbang VIP barat Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, kemarin (14/8) siang. Wajahnya tertunduk lesu. Penuh kecewa.
Sebab, jauh-jauh bersepeda dari Batu, Jawa Timur, untuk mengingatkan semua orang bahwa pengusutan tragedi Kanjuruhan yang merenggut ratusan nyawa itu belum tuntas, Midun dan sepedanya ternyata tidak bisa masuk ke SUGBK. Padahal, dia hanya ingin mengelilingi ring road kompleks stadion yang identik dengan sepak bola nasional tersebut.
Midun seorang aparatur sipil negara Dinas Pariwisata Kota Batu, Jawa Timur. Dia mulai bersepeda di Kota Batu pada 5 Agustus pukul 10.30 WIB dan tiba di Jakarta pada 13 Agustus sekitar pukul 22.00 WIB.
Sepanjang rute perjalanannya, berbagai kelompok suporter dan masyarakat menyambutnya hangat, tak terkecuali di Surabaya, kota yang selama ini dianggap ’’berhadapan” dengan Malang untuk urusan sepak bola. Semua mendukung misi yang dibawanya: bahwa tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 itu belum tuntas diusut meski sejumlah orang telah diadili.
Semua menyambutnya hangat. Kecuali di SUGBK. ”Saya sudah sampai, tapi mereka tidak menghendaki untuk masuk. Saya pikir itu (Midun dilarang masuk SUGBK) bukan kehendak para petugas di sini, saya yakin itu,’’ ungkapnya.
Midun sudah berusaha keras bernegosiasi dengan petugas. Negosiasi dibantu Sekretaris Jenderal Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia (PNSSI) Richard Achmad. Tapi, negosiasi buntu. Midun hanya bisa berdiri sampai gerbang luar VIP barat. Dia dan sepedanya tidak bisa masuk ke dalam.
”Kalau saya disuruh masuk ke dalam sendirian, ngapain. Yang penting kan itu (sepeda),’’ tegasnya.
Bagi Midun, sepeda yang ditunggangi tidak hanya menjadi ”sahabat sejati’’. Sepeda yang dimodifikasi menjadi roda tiga itu adalah media untuk menyuarakan keresahan hatinya.
Sepeda itu dipasangi keranda dengan kain warna hitam bertulisan Justice for Kanjuruhan. Itu terdapat di bagian kiri keranda. Pada bagian lain, ada juga tulisan angka 135, jumlah korban tragedi terkelam sepak bola Indonesia tersebut.
Di bawah keranda itu, ada potongan kardus berwarna cokelat. Kardus tersebut bertulisan, ”Pak Jokowi waktu di rumah sakit Saiful Anwar bilang usut tuntas mana??? Sudah 10 bulan. Apakah karena orang kecil? Tragedi Kanjuruhan (merupakan) pelanggaran HAM berat!!!”
Midun meminta maaf kepada para keluarga korban tragedi Kanjuruhan karena tidak bisa menyempurnakan misinya. Padahal, Senayan adalah tempat yang pas untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap belum tuntasnya pengusutan tragedi Kanjuruhan. (fiq/c19/ttg)
PERJALANAN MENCARI KEADILAN
- Dari Batu: 5 Agustus, pukul 10.30
- Sampai Jakarta: 13 Agustus, pukul 22.00
- Rute: Kota Batu–Stadion Kanjuruhan, Stadion Gajayana, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Jatibarang, Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, finis di Jakarta

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
