Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Juli 2023 | 18.12 WIB

Jumlah Penduduk Miskin Turun 460 Ribu Orang, Jatim Lebih Rendah dari Rata-Rata Nasional

Potret permukiman kumuh penduduk miskin di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Potret permukiman kumuh penduduk miskin di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com – Pemerintah percaya diri dengan target nol persen kemiskinan eks­trem pada 2024. Mengacu laporan terbaru Badan Pu­sat Statistik (BPS), ada pe­nu­runan kembali dengan angka yang cukup signifikan.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pem­ba­ngunan Manusia dan Ke­bu­dayaan (Kemenko PMK) Andie Megantara menga­takan, tahun ini jum­lah pro­vinsi dengan tingkat ke­mis­kinan ekstrem men­dekati 0 persen bertambah. Dari se­belumnya hanya 6 pro­vinsi kini menj­adi 13 provinsi.

Tiga belas provinsi ter­se­but, antara lain, Kalimantan Ba­rat, Bangka Belitung, Jam­bi, Su­matera Barat, Ka­limantan Selatan, dan Ka­limantan Te­ngah. Lalu, Ka­­­­li­mantan Utara, Kali­man­tan Timur, DKI Jakarta, Ban­ten, Riau, Kepulauan Riau, dan Bali. Sementara itu, ke­miskinan ekstrem di Jawa Tengah masih 2,04 persen, Jawa Barat, 1,29 persen, dan Jawa Timur 1,56 persen.

Hal itu sejalan dengan data yang dirilis BPS, yakni terjadi penurunan angka kemis­kinan ekstrem dari 2,04 per­sen pada Maret 2022 men­jadi 1,74 persen September 2022.

”Hasil yang baik ter­sebut tentunya menjadi pe­micu semangat kita untuk terus memastikan efektivitas ke­bi­jakan mau­pun program kerja pada sisa waktu yang kurang dari satu tahun me­nuju peng­hapusan ke­mis­kinan eks­trem 2024,” papar Andie dalam Forum Kon­solidasi Nasional Pelak­sanaan Per­cepatan Peng­ha­pusan Kemiskinan Eks­trem Tahun 2023–2024 di kantor Ke­menko PMK, Ja­karta, Senin (24/7).

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PMK Nu­nung Nuryartono me­nam­bahkan, tingkat kemiskinan ekstrem di 13 provinsi ter­sebut sudah berada di ba­wah 1 persen. Dia optimistis ang­­­ka itu akan kembali tu­run dengan intervensi kuat yang telah dilakukan peme­rintah dalam beberapa wak­tu terakhir.

”Sehingga kita bisa lebih menegaskan pro­vinsi mana yang perlu kita dorong untuk sesegera mung­kin melalui berbagai pro­gram yang ada. Karena me­mang yang ada di kerak itu yang betul-betul harus kita pastikan, kita dorong, agar bisa naik kelas,” paparnya.

Menurut dia, pemerintah telah melakukan keter­pa­duan strategi pengurangan beban dan menghasilkan berbagai pelaksanaan pro­gram ban­tuan sosial. Baik Ke­menterian So­sial, ”Karena itu, kita opti­mistis akhir tahun ini mudah-mu­dah­­­an bisa mendekati nol ko­­ma sekian persen.”

Sementara itu, Sekretaris Utama BPS Atqo Mardiyanto menyampaikan, penurunan tingkat kemiskinan di Indo­nesia terjadi seiring dengan tren pemulihan ekonomi na­sional. BPS mencatat, jum­lah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,9 juta atau 9,36 persen dari total penduduk. Turun 460.000 orang atau 0,21 persen dari posisi September 2022 yang mencapai 9,57 persen.

”Meski terus mengalami penurunan, ting­kat ke­mis­kinan Maret 2023 belum pu­­lih seperti masa sebelum pandemi,” ujarnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menambahkan, secara aku­mu­­latif, sejak Maret 2021 hing­ga Maret 2023 tercatat 1,6 juta orang yang berhasil keluar dari garis kemiskinan. Secara spasial, tingkat kemis­kinan per Maret 2023 me­nu­run, baik di perkotaan mau­­pun pede­saan. (mia/dee/c7/fal)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore