LULUS CEPAT: Doktor muda dari Fakultas Farmasi Unair Dr Maria Apriliani Gani SFarm MFarm saat ditemui di Lab In Vitro Fakultas Farmasi Unair Selasa (6/6). Maria menuntaskan studi doktoralnya 2 tahun.
Muda dan berprestasi. Itulah yang menggambarkan Maria Apriliani Gani. Perempuan 24 tahun itu tidak hanya berhasil lulus sebagai doktor termuda Universitas Airlangga (Unair), tetapi juga dengan predikat summa cum laude (lulus dengan kehormatan tertinggi).
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
BAGI Maria Apriliani Gani, laboratorium in vitro farmasi di gedung fakultas farmasi (FF) sudah menjadi rumah keduanya selama menempuh pendidikan doktor di Unair. Laboratorium itu sering digunakan perempuan 24 tahun tersebut untuk melakukan riset atau penelitian bersama tim dan dosen.
”Ini salah satu laboratorium tempat saya melakukan riset,” katanya saat ditemui Selasa (6/6).
Maria hanya membutuhkan waktu 3,5 tahun untuk menuntaskan jenjang S-2 dan program doktor (S-3) di FF Unair. S-2 ditempuh dalam waktu 1,5 tahun. Pendidikan di jenjang S-3 rampung dalam waktu 2 tahun 2 bulan. Saking cepatnya, Maria dinobatkan sebagai doktor termuda.
”Saya mendapatkan program beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU),” ujar perempuan kelahiran 9 April 1999 tersebut.
Program beasiswa PMDSU adalah salah satu program unggulan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek untuk mencetak calon doktor dari generasi milenial dalam kurun waktu empat tahun.
”Saya berhasil lulus doktor tidak sampai empat tahun,” kata putri tunggal pasangan Ilham Gani dan Olvie Silva Tani tersebut.
Capaian Maria tidak hanya lulus sebagai doktor termuda, tetapi juga dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4.00 atau summa cum laude. Prestasi itu juga diraih saat Maria lulus sarjana dan magister dengan IPK nyaris sempurna 3,94.
”Saat sarjana, saya lulus 3,5 tahun. SMA saya akselerasi dengan lulus hanya dalam dua tahun,” jelas lulusan program sarjana di Universitas Sam Ratulangi tersebut.
Maria memang sangat menyukai kegiatan riset sejak kuliah S-1. Dia kerap ikut dalam project riset bersama dosennya selama kuliah sarjana. Dari situlah, dia mendaftar program beasiswa PMDSU di Unair.
Maria berharap bisa mendapatkan beasiswa postdoctoral (program lanjutan S-3) di Amerika. Namun, proses mendapatkan itu sangat susah. Saat ini dia lebih berfokus mencari peluang kerja di Indonesia.
”Sudah banyak tawaran dari industri. Penginnya saya bisa menjadi dosen biar bisa mengembangkan keilmuan saya dan terus melakukan riset,” tandasnya. (*/c14/aph)

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
