
Photo
JawaPos.com - Tidak seperti Audi dan Mercedes, yang telah mengonfirmasi masa depan listrik murni mereka, BMW di sisi lain masih sangat optimistis dengan masa depan Internal Combustion Engine (ICE) mereka.
Masih ingin mengembangkan mesin-mesin konvensional berperforma tinggi, BMW ogah memastikan kapan ICE mereka akan dimatikan. Di segmen premium, Audi dan Mercedes telah menetapkan tenggat waktu yang tegas, tetapi BMW belum secepat itu.
Berbicara kepada media di BMW M Festival di Afrika Selatan pekan lalu, bos BMW menegaskan kembali kekuatan pilihan sebagai bagian integral dari masa depan merek. CEO BMW Afrika Selatan, Peter van Binsbergen, menegaskan kembali bahwa EV bukanlah solusi satu ukuran yang cocok untuk semua.
Dia mengakui bahwa negara-negara seperti Afrika Selatan tertinggal bertahun-tahun di belakang Eropa dan AS dalam hal kesiapan EV. Bukan hanya karena infrastruktur, tetapi karena sejumlah masalah, termasuk kendala keuangan dan jarak yang jauh yang harus ditempuh.
Menurut van Binsbergen, BMW secara global akan terus menjual kendaraan bertenaga pembakaran seperti Seri 3 di pasar yang membutuhkannya. Kendati demikian, dirinya tak menutup mata dan menyebut pada akhirnya nanti, BMW akan sepenuhnya beralih ke mesin listrik, termasuk seri M yang berperforma tinggi.
Binsbergen juga menyoroti pengembangan Hidrogen iX5 BMW sebagai solusi ideal untuk negara-negara di mana mobil listrik tidak sepenuhnya layak. Hal ini kemudian ditegaskan kembali oleh Timo Resch, wakil presiden pelanggan, merek, dan penjualan BMW M.
Ketika CarBuzz bertanya mengapa BMW memilih untuk berinvestasi dalam pengembangan hidrogen dari pada bahan bakar sintetis sebagaimana jalan yang dipilih oleh Porsche, Bentley, Aston Martin, dan lainnya, Resch mengatakan bahwa ada banyak pilihan yang semuanya memenuhi kebutuhan mobilitas ramah lingkungan dan BMW tidak dapat mengikuti semuanya.
BMW percaya hidrogen memberikan keseimbangan terbaik untuk kelangsungan hidup global, dengan manfaat listrik dan kenyamanan pengisian bahan bakar yang cepat. Resch juga setuju bahwa BMW memperkirakan hidrogen murni lebih mudah dipanen dengan cara yang ramah lingkungan dari pada proses penyempurnaan bahan bakar sintetis.
Secara sederhana, bahan bakar sintetis dibuat dengan menggabungkan karbon dari atmosfer dengan hidrogen secara kimiawi untuk membuat bahan bakar hidrokarbon buatan manusia. Bahan bakar ini adalah karbon netral dalam arti bahwa bahan bakar itu sendiri ketika dibakar hanya mengeluarkan karbon yang digunakan untuk mensintesisnya.
Tapi ini bergantung pada pemanenan hidrogen yang dilakukan dengan cara yang bersih. Pemanenan hidrogen biasanya membutuhkan energi yang intensif, dan proses pemurnian menambahkan lapisan konsumsi energi lainnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
