Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Mei 2022 | 01.32 WIB

Mengenang Achmad Yurianto, Ahli Data Covid-19 dan Pelopor Batik Virus

Juru Bicara Covid-19 Achmad Yurianto mengenakan batik bermotif virus. (dok covid-19.go.id) - Image

Juru Bicara Covid-19 Achmad Yurianto mengenakan batik bermotif virus. (dok covid-19.go.id)

JawaPos.com - Mantan Juru Bicara Covid-19 Untuk Pemerintah Achmad Yurianto tutup usia karena kanker usus pada Sabtu (21/5). Jika mengingat kembali sosoknya saat awal pandemi Covid-19, perasaan publik selalu campur aduk menantikan kehadirannya setiap sore hari untuk mengumumkan data perkembangan kasus Covid-19. Pak Yuri, namanya akrab disapa, sosok pejabat Kementerian Kesehatan yang tegas dan berwibawa dalam mengumumkan data secara akurat.

Achmad Yurianto selalu ditunggu masyarakat Indonesia yang berharap kasus Covid-19 setelah turun. Tugasnya begitu berat dari awal saat masih menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto lalu ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19.

Tak Hanya Data, Sosok Achmad Yurianto mengumumkan kasus 1, 2, 3 Covid-19 pada awal pandemi di tahun 2020. Kemudian kasus bertambah menjadi 19 orang hingga ratusan, dan ia terus setia mengumumkan kasus tersebut hingga berkembang menjadi jutaan orang.

“Produktif di rumah, kita bisa, kita pasti bisa,” kata Yurianto dalam slogannya saat itu.

Di awal pandemi, Yurianto juga memimpin kepulangan Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Tiongkok. Lalu ia juga yang memantau perkembangan para WNI yang masih terjebak di kapal Diamond Prince di Jepang dan beberapa WNI lainnya di kapal.

Yurianto juga sempat berduet dengan dokter Reisa Broto Asmoro untuk mengumumkan kasus Covid-19. Akan tetapi setelah hanya beberapa bulan menjelang akhir 2020, mereka berdua diganti oleh sosok Prof Wiku Adisasmito.

Pemerintah kemudian mengganti Juru Bicara Covid-19 Achmad Yurianto dengan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito. Pergantian itu disebabkan efek dari Perpres 82 2020 tentang komite Penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi.

Ada yang berbeda dari cara penyampaian informasi update kasus Covid-19 harian. Biasanya, Achmad Yurianto menyampaikan angka harian secara gamblang dari kasus positif harian, kasus sembuh, kasus meninggal, lalu kasus suspek secara Live di TV.

Tetapi Prof Wiku memberikan gaya yang berbeda. Tak lagi mengumumkan angka-angka tersebut. Tetapi masyarakat bisa mengeceknya sendiri melalui website dan akun YouTube Satgas Covid-19 atau Setpres hingga saat ini.

Pakai Batik Virus

Sebagai dokter militer, Achmad Yurianto selalu dikenal tegas dan berwibawa. Ia selalu rapi dalam berbusana dan penampilan keseluruhannya. Satu hal yang sempat membuat publik terhibur adalah ketika ia memakai busana batik dengan motif virus.

Masyarakat atau netizen menyorotnya membubuhkan virus Korona pada busana batiknya. Ada juga simbol pita untuk Orang Dengan HIV AIDS sebagai pemberi semangat. Kepada JawaPos.com saat itu, Yurianto tertawa saat ditanya soal busananya itu.

"Kok bisa dibilang pakai baju virus Korona toh, itu baju yang kita buat setahun lalu waktu memperingati hari AIDS sedunia. Itu kan ada logonya AIDS yang pita, ada-ada saja ah," katanya tertawa saat itu.

"Nah pada waktunya tahunya virus ya bentuknya begitu, bulat kayak kedondong," katanya. Saya lihat langsung sih enggak ya, itu kan ahli-ahli dibilangnya kayak gitu itu," tambahnya.

Menurutnya memang hampir semua bentuk virus mirip dengan tekstur yang bulat. Dan virus Korona mirip seperti virus AIDS.

"Imajinasi kita mirip sih, bulat gitu, hampir semua virus bentuknya gitu sih," katanya.

Saat ditanya warna apa saja yang dimiliki selain biru, Yurianto menjelaskan warna lainnya adalah kuning. Namun sengaja dia memakai yang warna biru.

"Kalau saya pakai kuning nanti dikira ande-ande lumut," tuturnya tertawa lagi.

"Ya kalau orang mau bilang itu batik virus Korona ya silahkan saja. Wong memang bentuk virus bulat-bulat gitu kok," ujarnya.

Saat masker medis langka, Yurianto juga mengkampanyekan pemakaian masker kain. Tak heran, istrinya adalah seorang perajin yang seringkali membuat masker dan disebar ke berbagai fasilitas kesehatan.

Yurianto mengungkapkan proses pembuatan batik tersebut ternyata merupakan sentuhan tangan perajin batik di Pekalongan. Desain secara garis besarnya disiapkan oleh Kemenkes kemudian dimodifikasi oleh para perajin.

Tapi karena ingin dibuat dalam jumlah banyak dan butuh waktu yang cukup singkat, maka batik tersebut dibuat berupa batik cap. Alasannya selain praktis, lebih cepat, dan lebih murah.

Maka dibuatlah dalam edisi 2 warna yakni biru seperti yang dikenakannya, dan warna lainnya adalah kuning. Selain 1 jenis virus yang berdiri tunggal berbentuk bulat serabut, ada juga model virus lain yang bergandengan pada busana tersebut. Itu semua adalah bentuk kreativitas perajin.

Sementara untuk masker kain batik yang dipakai Yurianto selalu berganti-ganti motif dan warnanya. Ternyata ada sentuhan tangan sang istri, Dwiretno Yuliarto yang menjahitkan masker untuk suami tercinta.

Dia mengakui bahwa warna masker dan busananya selalu matching atau sesuai. Itu semua sudah diatur oleh istri tercinta. Istrinya yang juga berlatar belakang seorang dokter dan telah pensiun, punya hobi menjahit dan juga dikenal sebagai perajin.

Ketika ditanya berapa jumlah koleksi batik dan maskernya, Yurianto menjelaskan kain batik selalu mudah dicari dan asli Indonesia. Sehingga selain mengapresiasi karya perajin, masker kain batik juga memanfaatkan kain perca yang ada. Apalagi bahan-bahan di rumahnya menumpuk.

Sebelumnya Kementerian Kesehatan membenarkan bahwa Achmad Yurianto mengidap kanker usus. Pengumuman itu diketahui publik sejak bulan April 2022. Namun tak lama setelah menjalani pengobatan, akhirnya Pak Yuri yang dikenal publik sebagai orang paling berjasa dalam mengumumkan data Covid-19 tutup usia pada Sabtu (22/5). Almarhum meninggal di RSUD Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore