Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Agustus 2019 | 22.37 WIB

‎Wiranto Sesalkan Demonstrasi di Papua, Kenapa Brutal

Ratusan pemuda dan mahasiswa asal Papua menggelar aksi demonstrasi di sekitar Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2019). Aksi unjuk rasa tersebut mengusung tema - Image

Ratusan pemuda dan mahasiswa asal Papua menggelar aksi demonstrasi di sekitar Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2019). Aksi unjuk rasa tersebut mengusung tema

JawaPos.com - Kondisi Papua terus memanas. Terbaru, seorang anggota TNI meninggal dunia saat mengamankan unjuk rasa di Kabupaten Deiyai, Papua. Massa mendesak supaya Bupati Deiyai mendatangani persetujuan referendum.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, menyesalkan aksi unjuk rasa itu menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

"Kita sesalkan dan harus kita hindari kenapa demonstrasi seperti itu brutal sampai membawa korban," ujar Wiranto di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8).

Menurut Wiranto, pemerintah mempersilakan massa melakukan unjuk rasa. Namun, semuanya harus sesuai dengan aturan main. Jangan sampai ada tindakan anarkis hingga memakan korban jiwa.

"Sebenarnya kalau demonstrasi itu dilakukan dengan baik, sesuai dengan aturan main dalam demonstrasi, saya kira kita tidak perlu khawatir," katanya.

Sementara mengenai tuntutan referendum, Wiranto mengatakan hal itu tidaklah tepat. Pasalnya, kata Wiranto, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final.

"Saya kira sudah pada tidak pada tempatnya. Tuntutan referendum itu saya kira tak lagi harus disampaikan, karena apa? NKRI sudah final," tegasnya.

Wiranto berujar, New York Agreement yang pernah dilaksanakan pada 1960-an itu sudah mengisyaratkan bahwa Irian Barat waktu itu - sekarang Papua dan Papua Barat - sudah sah menjadi wilayah NKRI.

"Sehingga NKRI sudah final, NKRI harga mati termasuk Papua dan Papua Barat," ungkapnya.

‎Sebelumnya, aksi unjuk rasa hingga berakhir ricuh terjadi di Kabupaten Deiyai, Papua. Demonstrasi menuntut referendum Papua itu menewaskan satu prajurit TNI dan melukai lima anggota kepolisian.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, demo berlangsung di Kantor Bupati Deiyai, Papua, Rabu (28/8). Awalnya, massa yang berdemo hanya berjumlah sekitar 150 orang.

Aparat TNI-Polri yang diterjunkan untuk mengamankan unjuk rasa mencoba bernegosiasi dengan demonstran. Saat itu, ribuan massa dari berbagai macam penjuru tiba-tiba datang dengan membawa senjata tajam dan panah.

"Langsung menyerang aparat keamanan. Seorang TNI (meninggal dunia), dan lima (anggota) Polri terluka terkena panah," ujar Dedi.

Dedi menyebut, seluruh korban terkena panah saat mengamankan demo ricuh Papua. Saat ini, aparat keamanan tengah berupaya mengendalikan situasi yang memanas di wilayah tersebut.

"Kami terus mengimbau masyarakat melalui tokoh-tokoh masyarakat kemudian melalui Pemda setempat untuk tidak terprovokasi terhadap pasukan-pasukan, sekelompok orang yang akan memanfaatkan situasi seperti ini," ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore