Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Desember 2017 | 13.15 WIB

Indonesia "Supermarket" Bencana Gempa dan Tsunami, Nih Penjelasan BMKG

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

Jawapos.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus memonitor selama 24 jam dan memberikan informasi seputar gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi dalam pengurangan risiko dampak gempa bumi dan tsunami.


Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, pengamatan gempa bumi berada di magnitude 5 atau lebih berpusat di Pusat Gempa Nasional BMKG. Sementara untuk gempa bumi dengan magnitude di bawah 5 terpusat di Stasiun Geofisika.


"Terdapat di seluruh wilayah Indonesia berjumlah 33 Stasiun Geofisika dengan 165 sensor seismograf dan 285 accelerometer," kata Dwikorita Senin (18/12).


Dia menerangkan, secara geografis, Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia yang bergerak saling mendesak satu dengan lain. Ketiga lempeng tersebut adalah Lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, Lempeng Pasifik di sebelah Timur, Lempeng Eurasia di sebelah Utara (sebagian besar wilayah Indonesia), dan ditambah Lempeng Laut Philipina.


Adapun karakteristik lempeng tektonik adalah Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah Utara dan bertumbuk dengan Lempeng Eurasia. Sementara Lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat sedangkan Lempeng Eurasia relatif diam.


"Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia sebagai wilayah 'supermarket bencana' yang rawan gempa bumi dan tsunami. Meskipun teknologi saat ini belum ada yang dapat memprediksi terjadinya gempa bumi secara tepat dan akurat," ujarnya.


Hal ini dibuktikan dari data Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) bahwa ancaman tsunami Indonesia adalah 46 persen dari panjang pantai Kepulauan Indonesia, 233 dari 515 Kabupaten, dan 23 dari 34 Provinsi.


Berdasarkan sejarah gempa bumi yang tercacat oleh BMKG, telah terjadi gempa bumi rata-rata sebanyak 4.500 kali per tahun. Di antaranya gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih, yang sifatnya mulai merusak terjadi sebanyak rata-rata 360 kali per tahun.


"Sebagai langkah pengurangan risiko dampak gempa bumi dan tsunami, diharapkan masyarakat agar lebih siap sebelum terjadi gempa dan tsunami, termasuk struktur bangunan, serta langkah melakukan penyelamatan saat gempa bumi dan tsunami," ujar Dwikorita.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore