
Ketua Umum GKB Haryo Tienmar
JawaPos.com - Menjelang tahun politik 2019 potensi bentuk pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa sangat rentan terjadi. Untuk itu, Ormas Gerakan Kerukunan Bangsa (GKB) menyerukan pentingnya melaksanakan empat konsensus, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketua Umum GKB Haryo Tienmar menyebut, Bung Karno selalu mengingatkan jangan sekali-kali melupakan sejarah atau Jas Merah. Sebab sejarah telah membuktikan perjuangan yang bersifat kedaerahan tidak berhasil.
Baru setelah 1908 disadari pentingnya perjuangan yang bersifat nasional, perjuangan yang menghapus sekat kesukuan, agama, ras, dan antaragolongan serta bahasa mampu meraih kemenangan. "Tentunya di era sekarang ini semangat 1908 masih tetap relevan,” kata Haryo Tienmar dalam keterangan tertulisnya, Minggu (29/10).
Diketahui, GKB merupakan organisasi yang bergerak di bidang kebangsaan, sosial, budaya dan pariwisata. Ormas ini bertujuan meningkatkan rasa cinta tanah air, budaya Indonesia serta mendorong masyarakat untuk taat hukum, hidup rukun dan bekerja menuju Indonesia sejahtera.
Haryo Tienmar berpendapat, program nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang gencar membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, bandara, pelabuhan laut untuk memperlancar jalur distribusi dan meningkatkan investasi, perlu diapresiasi dan didukung. Sebab selama ini kue pembangunan belum dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat.
Dia mengimbau partai politik (parpol) dan calon kontestan di Pilkada Serentak 2018 untuk bersikap “dewasa” dan tidak mengeluarkan isu-isu yang dapat menimbulkan polemik, perang di media sosial (medsos) dan gesekan lainnya sebagai strategi kampanye. Calon kepala daerah diminta hendak dapat mendinginkan suasana yang panas dan memberikan kesejukan bagi rakyatnya.
2018 disebut dengan tahun yang panas, karena ada 171 Pilkada serentak. Bahkan ada yang menyebut Pilkada 2018 serasa Pilpres 2019, karena genderang menuju Pemilu legislatif dan Pileg 2019 sudah ditabuh oleh masing-masing parpol peserta pemilu.
Tentunya setiap parpol akan memainkan berbagai strategi politik untuk meningkatkan eletabilitas dan populeritas di tingkat pemilih. Pilkada 2018 yang akan diikuti 68 persen pemilih nasional akan menjadi tolak ukur dalam Pileg dan Pilpres.
“Persatuan dan kerukunan masih sangat relevan saat ini. Apalagi di NKRI yang sangat majemuk dari segi ras, etnis, agama dan bahasa. Karena itulah, tidak boleh demi meraih tujuan politik mengangkat sentimen SARA. Kompetisi memperebutkan kekuasan harus dengan cara yang benar, mengedepankan keberagaman dan adu gagasan,” kata Haryo.
Menurutnya, seluruh pengurus GKB akan aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi lima tahunan itu. Sekaligus menjadi pengawal bahwa pesta itu berlangsung meriah tanpa ada percikan-percikan yang bisa menyulut perpecahan.
“Sebagai warga negara yang baik tentu berpartisipasi dalam pilkada dan pemilu merupakan sebuah keharusan. Karena saat ini cara seperti itulah yang bangsa ini pilih dalam menentukan pemimpinnya,” tegasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
