JawaPos Radar

Pesan Buya ke Ma'ruf Amin: Kemajemukan Indonesia Harus Dijaga

15/10/2018, 15:11 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Ma'Ruf Amin
POLITIK: Ma'ruf Amin di rumah Buya Syafii Maarif, pada Senin (15/10) siang. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Cawapres nomor urut 01, KH. Ma'ruf Amin mendapatkan beberapa masukan saat mengunjungi tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Senin (15/10). Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu disarankan untuk tetap menjaga kemajemukan Indonesia.

"Walaupun bukan pendukung, walaupun misalnya rival politik, tetap harus kita perlakukan sama dan tetap merawat kemajemukan bangsa ini," kata Ma'ruf Amin, usai melakukan pertemuan di rumah Buya Syafii Maarif, Perumahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Senin (15/10).

Buya Syafii menyarankan agar dirinya tak mendiskriminasi kelompok-kelompok tertentu. Mereka tetap diberikan pelayanan seperti yang lainnya.

Lanjut Ma'ruf Amin, dirinya yang berlatar belakang dari Nahdlatul Ulama (NU) sedangkan Buya Syafii dari Muhammadiyah juga diberi pesan agar mengedepankan Islam berkemajuan. "Secara khusus karena saya dari NU, NU jargonnya Islam Nusantara. Beliau bilang jangan hanya Islam Nusantara, tapi Islam berkemajuan yang jadi motonya Muhammadiyah," ucapnya.

Ma'ruf Amin juga mengatakan, Buya Syafii merupakan sahabat dekatnya. Keduanya pernah sama-sama di Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). "Cuma saya jadi cawapres, saya harus mundur dari BPIP," katanya.

Dalam perbincangan yang berlangsung tertutup itu, Ma'ruf Amin mendapatkan banyak masukan. Supaya bisa menjadi bahan pertimbangan ketika memang nantinya terpilih di Pilpres 2019. "Bahwa nanti kalau jadi wapres, harus menjadi wapres untuk seluruh Indonesia," ucapnya.

Sementara, Buya Syafii menambahkan, agama tidak bisa dipisahkan dengan politik. Agama semestinya dijadikan panduan moral berpolitik. "Jadi agama jangan dijadikan sebagai kendaraan," katanya.

Ia mencontohkan jangan sampai negara ini menjadi seperti Arab. Perpecahan di sana, seperti adanya ISIS atau paham kekhilafahan tidak baik dibawa ke Indonesia. 

"Pilpres 2019 harus damai. Kalau ada yang menghujat sepihak yang lain lebih kalem. Nanti, Pak Jokowi suruh diam saja nggak perlu jawab," ucapnya.

(dho/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up