
SALING DUKUNG: Komunitas Seduluran Homeschooling Surabaya menggelar pertemuan rutin. Pekan lalu mereka berkumpul di Taan Harmoni, Keputih, Surabaya.
Melawan Stereotipe, Siap Jadi "Guru" Seumur Hidup
Pendidikan keluarga sama baiknya dengan pendidikan formal di sekolah. Prinsip itulah yang mendasari lahirnya komunitas Seduluran Homeschooling Surabaya. Bermula sebagai wadah para orang tua, komunitas itu kini tak ubahnya keluarga besar mereka yang memilih jalur homeschooling.
"JANGAN dekat-dekat! Panas! Semuanya agak menjauh,” seru Orion. Minggu (28/5) pagi itu, dia mengomando empat kawannya yang bermain kaca pembesar bersama-sama. Berjongkok, mereka mengelilingi Orion yang menggenggam suryakanta. Pantulan sinar matahari yang dibiaskan dari kaca tersebut dia arahkan ke daun kering berwarna cokelat di bawahnya.
’’Jangan dipindah-pindah sinarnya sampai warna daunnya berubah,” ucap bocah 7 tahun itu. Dia berusaha menjelaskan dengan gamblang percobaan yang sedang dia lakukan itu kepada teman-temannya.
Benar saja, tidak sampai setengah menit kemudian, perkataan Orion terbukti. Daun kering yang terkena sinar matahari itu berubah warna, dari cokelat tua menjadi keperakan. Dari situ, asap tipis muncul. Lalu daun pun terbakar.
Teman-teman Orion terbelalak, antusias. Orion lalu menawarkan kepada teman-temannya agar mencoba sendiri percobaan yang sama sepertinya. Dia ingin teman-temannya juga punya pengalaman membakar daun dengan bantuan kaca pembesar. ’’Pokoknya jangan dekat-dekat ya,” tegasnya. Teman-teman Orion pun lantas bergantian mencoba.
Dinaungi rindangnya pepohonan dan hutan bambu Taman Harmoni Keputih, Surabaya, Orion belajar langsung dari alam. Lebih dari itu, dia dan teman-temannya juga bebas bermain. Ada yang asyik bermain sepak bola, masak-masakan, sampai begantian meluncur di perosotan.
PANAS: Anak-anak mengamati proses pembakaran daun kering dengan menggunakan lensa pembesar.
Anak-anak itu bersenang-senang tanpa gawai. Mereka intens berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Di samping mereka, tiga tikar digelar. Empat bapak dan ibu duduk bersila. Mereka asyik ngobrol dan bertukar kabar. Dalam suasana rileks itu, mereka membahas agenda ke depan komunitas Seduluran Homeschooling Surabaya. Terutama terkait rencana camping dan trekking ke Puthuk Gragal, Pacet, Mojokerto. Di sana, mereka akan mengadakan kegiatan kolaboratif dengan komunitas Kupunesia. Acara utamanya adalah mengamati kupu-kupu.
’’Biasanya yang datang lebih banyak. Ini karena jadwal temu rutinnya berubah,” ucap Koordinator Komunitas Seduluran Homeschooling Surabaya Lyly Freshty kepada Jawa Pos. Maklum, tidak semua homeschooler tinggal di Surabaya. Mereka berasal dari beberapa kota di Jawa Timur.
Di antara keluarga yang nimbrung itu, ada dua keluarga yang baru bergabung. Salah satunya, Anya Almira. Perempuan 32 tahun itu mengajak kedua anaknya, Rayyan dan Skye. ’’Mulanya saya dapat informasi dari Instagram komunitas. Lalu saya putuskan ke sini,” ucapnya.
Ketertarikan Anya pada homeschooling bermula saat pandemi merebak. Ketika kedua anaknya harus belajar daring karena sekolah ditutup. Dia bersama sang suami mengajari sendiri kedua putra putrinya itu untuk mengerjakan tugas.
Lalu, dia memutuskan untuk tidak memasukkan putrinya, Syke, ke sekolah. Saat itu, dia seharusnya masuk TK. Saat itulah dia mulai menjalani pendidikan keluarga atau homeschooling. ’’Dan ternyata anak lebih antusias,” papar alumnus Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura itu.
Tahun ini, Anya akan menerapkan homeschooling juga untuk sang kakak, Rayyan. Bocah 7 tahun itu sekarang duduk di kelas II SD. ’’Rencananya, pada kenaikan kelas III ini. Kami putuskan untuk homeschooling saja. Tidak ke sekolah formal,” ungkapnya. Keputusan bulat itu diambil setelah sang anak sendiri juga minta belajar di rumah saja.
Anya melihat keinginan Rayyan untuk mengikuti jejak sang adik karena dipicu banyaknya tugas dari sekolah. Dia merasa lebih nyaman belajar di rumah. ’’Mungkin karena terlalu banyak materi dan anak hanya dicekoki saja,” paparnya. (elo/c17/hep)
