JawaPos.com - Jabatan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi sangat krusial dibahas jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Sebab, jabatan tersebut merupakan simbol marwah, otoritas tertinggi Syuriyah, sekaligus penentu arah strategis jam’iyah.
Anggota Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Kiai Imam Jazuli mengatakan, pemilihan Rais Aam harus berdasarkan kriteria tegas sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Sosok yang dipilih tidak boleh hanya mengandalkan popularitas.
Langkah ini penting karena Syuriyah adalah lembaga tertinggi yang memegang kendali organisasi para ulama seutuhnya. Sehingga, pejabatnya pun harus memiliki kapabilitas kuat dalam menjalankan roda organisasi.
“Dalam struktur NU, Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah simbol marwah, pemimpin spiritual, dan pengambil kebijakan strategis jam’iyah. Karena itu, yang paling penting bukan siapa orangnya, tetapi apakah ia memenuhi kriteria,” kata Imam, Sabtu (24/1).
Terdapat empat pilar utama yang harus dimiliki Rais Aam PBNU, yakni alim, faqih, zahid, serta berwibawa dan berpengalaman dalam organisasi. Sosok tersebut harus diperkuat dengan nilai muru’ah, futuwwah, dan muharrikan (penggerak).
Imam menilai, sosok Said Aqil Siradj sebagai salah satu yang bisa dipertimbangkan. Said Aqil dinilai memenuhi sejumlah syarat tersebut.
“Jika kriteria itu diterapkan secara objektif, maka KH Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan paripurna,” ujar Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon ini.
Said Aqil dinilai sebagai ulama dengan latar belakang yang baik. Dia pernah menimba pendidikan di Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta penguasaan mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik (turats) dan pemikiran kontemporer.
“Pemikiran beliau mencerminkan Islam wasathiyah. Teguh pada tradisi pesantren, tetapi mampu merespons modernitas tanpa kehilangan jati diri NU. Sehingga, kefaqihan KH Said Aqil bersifat solutif dan kontekstual, sehingga mampu memberikan jawaban atas persoalan umat di era perubahan sosial yang cepat,” jelasnya.
Dalam aspek spiritualitas, Said Aqil juga memiliki karakter zahid, yakni tidak terikat ambisi duniawi meskipun memiliki kapasitas dan akses kekuasaan.
“Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai sarana ibadah. Jabatan bagi Kiai Said adalah amanah dan khidmah, bukan tujuan,” ungkapnya.
Said Aqil juga bukan orang baru di PBNU. Dia pernah menjadi Ketua Umum PBNU selama dua periode dari 2010–2021. Hal ini membuat Said memahami NU secara utuh, baik dalam aspek struktural, ideologis, maupun kultural.
“Beliau bukan hanya paham AD/ART, tetapi juga pelaku sejarah modernisasi NU. Ia tahu bagaimana mengelola jam’iyah sebesar NU tanpa keluar dari khittah 1926. Di bawah kepemimpinannya, gagasan kemandirian NU melalui penguatan pendidikan tinggi, rumah sakit, dan jejaring internasional dinilai sebagai visi strategis jangka panjang,” pungkasnya.