
Komisioner Kompolnas Mohammad Choirul Anam. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com - Di tengah berjalannya reformasi kepolisian muncul polemik soal kedudukan Polri. Sebagian menilai Polri bisa ditempatkan di bawah kementerian, beberapa berpandangan bahwa Polri harus tetap berada langsung di bawah presiden. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) berpandangan bahwa kedudukan Polri di bawah presiden secara langsung sudah tepat.
Komisioner Kompolnas Choirul Anam menyampaikan hal itu kepada awak media pada Kamis (22/1). Dia menyampaikan bahwa jika banyak pihak khawatir terhadap intervensi politik mempengaruhi cara kerja kepolisian, memindahkan kedudukan Polri di bawah kementerian justru akan semakin membuka ruang intervensi politik. Sebab, dia menyatakan bahwa kementerian lebih rentan intervensi politik.
”Kedudukan kepolisian di bawah presiden itu paling baik. Apalagi, salah satu background diskursus soal ini adalah intervensi politik dan sebagainya. Kita tidak membayangkan kalau dia (Polri) dinaungi oleh kementerian yang lebih rentan soal (intervensi) politik. Itu yang pertama, sehingga di bawah presiden adalah kedudukan yang paling baik,” terang Anam.
Kedua, mantan komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) itu menyampaikan bahwa jika kedudukan Polri dibandingkan dengan TNI yang berada di bawah Kementerian Pertahanan (Kemhan), Anam menyatakan bahwa kelembagaan TNI dan Polri memang berbeda. Termasuk fungsi dan prinsip dasar kerja-kerja kedua institusi tersebut.
”Misalnya tata kelola pertahanan negara itu memang otoritas politik, di Undang-Undang TNI juga begitu. Makanya pengerahan, blueprint pertahanan itu menjadi otoritas politik yang wajahnya adalah wajah Kementerian Pertahanan. Jadi, kelembagaan polisi sama TNI, ya saya kira tidak bisa diperbandingkan karena karakternya berbeda, prinsip dasarnya berbeda,” ungkap Anam.
Bahkan, lanjut dia, di dunia internasional pun tata aturan sipil dan militer berbeda. Yang tidak kalah penting, lanjut Anam, konteks polisi yang profesional kini dirindukan oleh masyarakat. Menurut dia, hal itu tidak akan terpenuhi begitu saja dengan memindahkan kedudukan Polri. Hal paling penting justru pengawasan tata kelola Polri yang harus terus diperkuat.
”Itu yang jauh lebih penting daripada diskursus misalnya soal ini kedudukannya dimana begitu. Kalau kedudukan itu soal intervensi politik, ya jangan ditaruh di yang paling gampang diintervensi. Kalau di bawah kementerian, potensi diintervensinya lebih besar,” ujarnya.
Karena itu, Anam menekankan kembali, untuk memastikan Polri semakin baik dan profesional, kemudian menjadi polisi yang humanis, maka tata kelola kepolisian harus diperbaiki menjadi lebih akuntabel dan transparan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah memperkuat pengawasan. Menurut dia, penguatan pengawasan justru menjadi hal paling penting.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
