Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Juni 2023 | 22.08 WIB

Tiket Capres Diberikan ke Ganjar, Butet Anggap Megawati Sebagai Negarawan

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama budayawan Butet Kertaradjasa di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (7/6). - Image

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama budayawan Butet Kertaradjasa di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (7/6).

 
JawaPos.com - Budayawan Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa menilai positif keputusan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang memberikan tiket capres kepada Ganjar Pranowo. Megawati dianggap mengesampingkan egonya, meski bisa mencalonkan dirinya sendiri.
 
Butet mengatakan, kiprah dan sepak terjang Megawati termasuk pemikirannya, sudah jauh melangkah ke depan demi bangsa bisa melompat lebih maju.
 
"Menurut saya ini ya, Bu. Kayaknya ini bukan sekadar politisi Ibu Megawati ini. Tapi, sudah makrifat politik. Makrifat politik itu levelnya negarawan kira - kira begitu. Kalau negarawan kelasnya ini pasti bukan transaksional," kata Butet di sela - sela Rakernas III PDIP di Gedung Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (7/6).
 
 
Butet menilai, level kenegarawanan politik Megawati, sudah terlihat sejak Pemilu 2014. Sampai sekarang pun kembali berlanjut ketika Ganjar diusung menjadi Calon Presiden.
 
"Nyatanya ya saya menyampaikan satu bukti yang saya apresiasi. Tahun 2014 misalnya, kalau saja Ibu Megawati ini memanjakan ego politiknya, saat itu Ibu maju sendiri itu jadi Presiden. Tapi tidak, Ibu menugasi Pak Jokowi sebagai kadernya," kata Butet.
 
"Tahun ini kalau saja, masih juga egosentris dan belum level makrifat tentu mungkin Mbak Puan yang dipaksakan. Tapi, akhirnya kemarin kita lihat tanggal 21 April itu, Ganjar yang ditugasi oleh Ibu Megawati untuk menjadi Presiden Republik Indonesia berikutnya. Mosok kayak begitu transaksional, wong Ganjar neng kere," imbuhnya.
 
Butet juga merasa terhormat lantaran tulisannya di koran nasional bertajuk 'Pesan Punakawan' dibaca oleh Megawati. Bahkan Megawati menginstruksikan kepada seluruh kadernya untuk membaca tulisan Butet.
 
Intisari dari tulisan itu, kata Butet, menggambarkan seorang punakawan - tokoh pewayangan Jawa- agar 'ojo dumeh', dan 'ojo muntal negoro'.
 
"Di dalam tulisan saya itu kawan- kawan, saya menerangkan tentang kearifan kebudayaan dari masyarakat kecil yang menggambarkan punakawan yang selalu mengingatkan ksatria, ketika ksatria itu lengah. Salah satunya mengingatkan supaya 'Ksatria jangan mentang - mentang; ojo dumeh. Jangan miliki kekuasaan membuat lupa. Jangan muntal negara. Muntal itu makan, nelan negara," tandasnya.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore