Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Juni 2023 | 17.52 WIB

Efek Bentrok PSHT-Brajamusti, Kursi Bersejarah Peninggalan Ki Hadjar Dewantara Ikut Rusak

TERDAMPAK: Pemberitahuan terkait penutupan Museum Taman Siswa Dewantara Kirti Griya, Kota Jogja, kemarin (5/6). - Image

TERDAMPAK: Pemberitahuan terkait penutupan Museum Taman Siswa Dewantara Kirti Griya, Kota Jogja, kemarin (5/6).

JawaPos.com - Kursi di Museum Ki Hadjar Dewantara, Kota Jogja, itu mungkin dapat dibuat lagi dari bahan yang sama. Tapi, tetap tak akan bisa menggantikan kursi yang rusak dampak dari bentrokan dua kelompok.

”Tidak tergantikan, bahan sama (kayu seperti lainnya, Red). Tapi, kan gak pernah diduduki Ki Hadjar Dewantara,” ujar penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X DIJ-Jateng Bagus Pujianto seperti dilansir Jawa Pos Radar Jogja kemarin (5/6).

Ya, kursi yang rusak itu peninggalan sang Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Benda bersejarah tersebut satu dari sederet koleksi yang rusak setelah museum itu menjadi salah satu lokasi bentrokan Brajamusti, kelompok suporter PSIM Jogjakarta, dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada Minggu (4/6) malam.

Sementara itu, pentolan PSHT dan Brajamusti sepakat ikrar damai. Kesepakatan tersebut berlangsung di Mapolda Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) kemarin. Kedua kelompok berjanji untuk saling menahan diri dan menjaga nama baik Jogjakarta.

Ketua Cabang PSHT Bantul Tri Jaka Santosa memastikan konflik telah berakhir. Khususnya kerusuhan yang terjadi di kawasan Kota Jogja pada Minggu (4/6) sore hingga malam.

’’Untuk itu, kami juga mengimbau warga PSHT karena situasi Jogja sudah kondusif, saya imbau warga PSHT di mana pun berada, tidak boleh masuk ke Jogja. Jangan kotori Jogja dengan kegiatan-kegiatan yang tidak diinginkan,’’ katanya, seperti dilansir Jawa Pos Radar Jogja.

Jaka juga meminta maaf kepada Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dan masyarakat Jogjakarta secara luas. ’’Saya betul-betul minta maaf karena ini di luar kemampuan kami dan saya sudah berusaha membendung,’’ katanya.

Jaka meyakini bahwa persaudaraan antara PSHT dan Brajamusti kuat. ’’PSHT maupun Brajamusti sama-sama saudara karena mereka semua bernaung di PSHT dan Brajamusti,’’ ujarnya.

JAGA SITUASI: Polisi berjaga di lokasi terjadinya tawuran di kawasan Jalan Taman Siswa, Kota Jogja, pada Minggu (4/6) malam. Ratusan orang sempat diamankan polisi, tapi tak ada yang menjadi tersangka.

Menurut Bagus, pihaknya belum bisa menaksir kerugian. Sebab, ada dua nilai barang sejarah, intrinsik dan ekstrinsik. Karena itu, nilainya bisa tak terbatas.

”Barang (barang di museum) ini memiliki nilai intrinsik dan ekstrinsik, misalnya nilai sejarah, nilai cagar budayanya, dan itu tidak bisa diukur dengan angka. Harus ada kesepakatan dengan ahli,” jelasnya kemarin (5/6).

Selain kursi Ki Hadjar Dewantara, yang rusak taman di sekitar museum yang diinjak-injak massa. Selain itu, pintu belakang penghubung lepas.

Jumlah hasil kerusakan belum final dan masih bergulir. Penyelidikan meliputi bahan dan keterangan dari sejumlah saksi. Bagus menyatakan, kronologi kejadian sudah dipaparkan pihak museum. Hal tersebut termasuk dalam tahapan pengumpulan data.

Bagus menambahkan, pihaknya segera memberikan rekomendasi dan langkah apa saja yang harus diambil pihak museum. Adapun perbaikan barang dapat dilakukan secara internal mengingat kerusakan masih kategori ringan.

Sementara itu, Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo menyayangkan kejadian tersebut. Sebab, Kota Jogja sedang membangun kembali kepercayaan publik karena sebelumnya marak kejahatan jalanan. Namun, malah hal buruk kembali terjadi di kota pelajar tersebut.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore