Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 November 2025 | 02.15 WIB

MBG Jadi Perangsang Swasembada Pangan, Akhiri Ketergantungan Impor Kedelai!

Akademisi Bidang Pertanian, Ali Zum Mashar pada diskusi bertajuk - Image

Akademisi Bidang Pertanian, Ali Zum Mashar pada diskusi bertajuk

JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan hanya program intervensi gizi, tetapi mesin penggerak untuk mewujudkan swasembada pangan nasional. Hal itu disampaikan Akademisi dan Inovator Bidang Pertanian, Ali Zum Mashar pada forum diskusi bertajuk 'Penguatan peran serta Masyarakat dalam Program MBG melalui Supply Rantai Pasok Lintas Sektor' di Tangerang Selatan, Senin (24/11).

“MBG ini merupakan sebagai perangsang atau daya tarik bangsa ini untuk swasembada. Karena apa? Swasembada merupakan bagian dari asta cita Presiden di asta cita kedua. Kita menjadi bangsa yang cukup makan, kemudian bisa mandiri dalam pangan, energi, serta ekonomi biru," ujarnya.

Menurut Ali, MBG membuka akses pasar besar yang dijamin negara, sehingga menjadi pendorong kuat bagi petani dan industri pangan lokal untuk tumbuh.

Di mana, MBG menyediakan kebutuhan protein anak sekolah dan masyarakat rentan, sehingga harus dipenuhi dari sumber yang aman, sehat, dan berasal dari dalam negeri.

“MBG adalah pasar yang pasti bagi bangsa ini yang dijamin oleh negara,” ujarnya.

Sebagai inovator yang menciptakan teknologi organik bernama Mikroba Google, Ali mengaku diberikan mandat khusus oleh Presiden untuk mewujudkan swasembada kedelai dalam dua tahun.

“Bulan Juni kemarin, Bapak Presiden memberikan tugas, mandat, ‘Bisa enggak kedelai dua tahun swasembada?’ Saya jawab, ‘Bisa, Bapak.’," tegasnya.

Swasembada kedelai ini sangat krusial karena kedelai merupakan sumber utama protein MBG. Ia menekankan bahwa selama 35 tahun kedelai Indonesia “dikendalikan oleh perang proksi neoliberal”.

“35 tahun kita pangan diatur oleh mereka Kalau kita bisa makan kedelai yang aman dan tidak membahayakan bahaya laten, kenapa tidak?," ujarnya.

Ali juga membeberkan bahwa mayoritas kedelai yang diimpor Indonesia adalah GMO yang didesain untuk pakan ternak. “Yang kita impor selama ini adalah kedelai GMO. Kalau kedelai lokal, hormon-hormon yang menyebabkan kewanitaan tinggi itu dengan kita masak, kasih panas, maka itu hormon itu sudah rusak, berubah jadi protein. Nah, MBG ini yang kita perlukan adalah proteinnya," bebernya.

Kedelai Garuda Merah Putih: Sumber Protein MBG
Indonesia kini memiliki varietas kedelai lokal unggulan hasil inovasi Ali: Garuda Merah Putih, non-GMO, dengan produktivitas tinggi. “Produksinya 5,3 ton per hektar, kadar proteinnya 36 persen, non-GMO. Lemaknya lemak baik, 19 persen," ungkapnya

Ia menegaskan bahwa varietas ini bukan hanya lebih sehat, tetapi juga lebih menguntungkan. Bahkan bila diolah menjadi susu kedelai, nilai ekonominya meningkat hingga empat kali lipat.

“Kalau kita olah menjadi susu, bisa menjadi duitnya Rp66.000, meningkat empat kali lipat," terangnya.

Susu kedelai ini dinilai sangat ideal untuk MBG karena murah, bernutrisi tinggi, dan bisa diproduksi lokal. “Susu kedelai ini merupakan kebutuhan protein anak dan ibu yang sedang hamil bayi, nilai gizinya tidak kalah dengan susu kemasan harganya sepertiga," tambahnya.

Ali mengungkapkan, pemerintah telah memutuskan langkah besar untuk mempercepat swasembada kedelai. Presiden memberikan lahan 1 juta hektar untuk kedelai, dan membentuk Agrinas Kedelai.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore