
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur di Surabaya. (Juliana Chrisy/JawaPos.com)
JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyelesaikan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang hasilnya dapat mengevaluasi gizi balita usia 0 sampai 59 bulan. Dari survei di 38 provinsi atau 300.000 balita, diketahui prevalensi tengkes menjadi 19,8 persen. Meski turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, masih ada tantangan yang harus diselesaikan.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Asnawi Abdullah menyatakan angka tengkes 19,8 persen artinya pada 2024 ada 4,4 juta balita yang mengalami tengkes. Dia menyebut 2024 jauh lebih baik dibanding 2023 yang tengkesnya 20,6 persen. "Jika diterjemahkan, 2024 berhasil menurunkan (tengkes pada) 357.705 balita," ucapnya.
Dia cukup optimistis pada 2045 angka tengkes bisa ditekan hingga 5 persen karena sudah on the track. Syaratnya penurunan per tahun harus menurunkan 325.000 balita tengkes.
Ada yang perlu dicermati, anak usia 1 tahun pada 2023 yang sebelumnya tidak tengkes, di 2024 ketika usianya lebih dari 12 bulan ada kenaikan tengkes. Di 2023 ada 13,1 dan ketika dilakukan survei lagi di tahun setelahnya ditemukan 19,9 persen. Ini artinya ada balita tengkes baru. "Tiga dari 10 balita dari keluarga miskin memiliki peluang tengkes," ucapnya.
Asnawi mengatakan ada disparitas tengkes di setiap provinsi. Ada 12 provinsi yang angka tengkesnya di bawah nasional, di antaranya Jawa Timur, Jogjakarta, dan Bali. "Nusa Tenggara Timur angkanya tinggi," ucapnya.
Sementara itu, pada kesempatan lain, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menyebut tengkes merupakan masalah lama. Dia mengakui untuk menurunkan tengkes tidak mudah. "Tantangan terberat adalah memastikan bagaimana intervensinya agar bisa presisi dan disiplin," ucapnya.
Untuk melakukan intervensi agar tepat sasaran, Indonesia memiliki data keluarga risiko stunting (KRS). Wihaji menyebutkan bahwa keluarga ini harus rutin mendapatkan intervensi dan berbagai sektor harus bahu-membahu dalam mengintervensi. "Kami terus ikhtiar untuk turunkan tengkes," ujarnya. (lyn)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
