
Presiden RI Prabowo Subianto saat pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Kuala Lumpur, Senin (26/5/2025). (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)
JawaPos.com - Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bank Indonesia dengan Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBoC) terjadi di antara pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang di Jakarta.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai hal itu sebagai arah baru Indonesia dalam percaturan keuangan global yang kian multipolar. Dia pun membeber tiga manfaat yang bisa diperoleh Indonesia atas kerja sama tersebut.
Pertama, penyediaan kanal pembiayaan jangka panjang dalam mata uang RMB. Fakhrul menilai hal itu akan menjadi alternatif strategis untuk mendanai proyek infrastruktur dan pembangunan nasional. Sebab, Tiongkok saat ini sedang berenang dalam likuiditas dengan tingkat imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun mereka menjadi 1,6 persen.
Kedua, kerja sama Indonesia dengan Tiongkok itu diyakini bakal mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar domestik. Kondisi itu akan memberikan ruang stabilisasi yang lebih kuat bagi nilai tukar rupiah. Dalam jangka menengah, hal itu bahkan dapat membuka peluang penguatan rupiah secara struktural.
Ketiga, masih kata Fakhrul, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan pada instrumen pembiayaan jangka pendek seperti SRBI dan mulai membangun sistem pendalaman keuangan berbasis multi currency. Hal itu selaras dengan visi Pemerintah Indonesia yang ingin memperkuat ketahanan eksternal dan mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
”Hal ini juga menandai perubahan diplomasi kita bersama Tiongkok, dari diplomasi beton ke diplomasi modal. Kerja sama Indonesia dan Tiongkok selama ini lekat dengan pembangunan fisik seperti jalan tol, pelabuhan, kereta cepat. Tapi dengan pertemuan ini, arah kerja sama naik kelas, menuju diplomasi modal,” jelas Fakhrul.
Menurut Fakhrul langkah Indonesia bekerja sama dengan Tiongkok juga memiliki implikasi geopolitik. Di tengah ketegangan antara blok Barat dan Timur, Indonesia memilih menjadi jembatan. Bukan memilih sisi, tetapi membentuk jalur baru yang inklusif dan multipolar.
”Kita bukan musuh dolar, tapi juga bukan budak dolar. Kita membuka diri pada RMB bukan untuk tunduk pada Beijing, tapi untuk membentuk sistem keuangan yang lebih adil, terbuka, dan multipolar,” bebernya.
Menurut Fakhrul, langkah tersebut akan mendukung visi Presiden Prabowo Subianto yang punya keinginan untuk memperkuat ketahanan eksternal, mengamankan pembiayaan jangka panjang, dan membangun sistem keuangan nasional yang lebih adaptif terhadap perubahan global.
”Jika dikelola dengan tepat, pertemuan ini bisa menjadi langkah awal menuju sistem keuangan nasional yang lebih stabil, lebih berdaulat, dan lebih terhubung ke dunia tanpa kehilangan arah. Karena di tengah ketidakpastian global, kekuatan bukan milik yang paling cepat atau paling besar, tetapi milik mereka yang mampu menjadi jembatan ketika dunia terbelah,” ujarnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
