Dedi Mulyadi dan Kak Seto saat menyambangi para siswa yang menjalani pendidikan karakter di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi. (Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel)
JawaPos.com - Pembinaan karakter yang dilakukan terhadap siswa-siswi nakal di Jawa Barat (Jabar) dengan memasukkan ke barak militer dipilih oleh Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Cara tersebut dinilai efektif membina karakter anak nakal menjadi lebih bertanggung jawab.
Walaupun menuai pro dan kontra, program tersebut tetap dijalankan oleh Dedi Mulyadi. Beberapa hasilnya dikatakan efektif memperbaiki karakter anak yang tadinya nakal, berubah jadi lebih bijak.
Mengenai tanggapan bahwa cara Dedi Mulyadi tersebut berpotensi melanggar hak-hak anak, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto punya pandangan lain.
Dalam kunjungannya, mendampingi Dedi Mulyadi, terkait program pendidikan siswa di barak militer, Kak Seto menegaskan bahwa program ini tidak melanggar hak-hak anak. Meskipun pelaksanaan pendidikan berlangsung dalam suasana semi-militer, pendekatan yang diterapkan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip perlindungan anak.
“Sering kali ada anggapan keliru, meskipun ada unsur kedisiplinan ala militer, pendekatannya tetap menggunakan bahasa anak dan menjunjung tinggi hak-hak mereka,” ujar Kak Seto, seperti dilansir dari Instagram @humas_jabar.
Program tersebut diketahui mengacu pada konsep Panca Waluya, yakni pendidikan karakter yang menekankan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, cinta tanah air, dan pengembangan potensi diri.
Walau masuk barak militer selama beberapa waktu, para siswa tetap mendapatkan hak dasar mereka. Termasuk hak untuk tumbuh dan berkembang, hak perlindungan, hak menyuarakan pendapat, hingga akses terhadap pemeriksaan kesehatan dan psikologi secara berkala.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat juga menegaskan keterbukaannya terhadap kritik dan masukan. Permintaan untuk menghadirkan LPAI sebagai pihak independen untuk meninjau langsung proses pelatihan menjadi salah satu bentuk komitmen terhadap transparansi dan perlindungan hak anak.
Kak Seto menyampaikan bahwa pihaknya akan terus memantau hingga proses pendidikan karakter selesai. Program ini menjadi sorotan nasional, sekaligus contoh baru dalam cara mendidik anak dengan pendekatan yang tegas namun tetap mengedepankan aspek psikologis dan perkembangan anak secara menyeluruh. (*)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
