
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan keterangan pers kepada awak media di Kantor Kementerian HAM, Jakarta Selatan, Kamis (8/5/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Program masuk ke barak ala Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terus berkembang. Setelah menerapkan untuk pelajar "nakal", kini mantan bupati Purwakarta itu akan memasukkan para preman yang membuat onar ke barak militer. Alasannya, preman yang membuat onar kerap meresahkan masyarakat dan investor. Apalagi preman yang berkedok anggota organisasi masyarakat (ormas).
Apalagi, dalam kelompok yang mengatasnamakan sebagai organisasi kemasyarakatan atau ormas. Banyak dari mereka kerap bertindak sesuka hati, mengganggu masyarakat dengan melakukan pemalakan dan pungutan liar.
Dedi Mulyadi memastikan preman akan dibina di barak militer. Dia mengklaim langkah itu bukan tindakan represif, melainkan edukatif dan produktif. Para preman akan dibina melalui pelatihan di barak militer, kemudian diberdayakan atau dipekerjakan untuk membantu proyek-proyek pembangunan di Jawa Barat.
“Saya di bulan Juni, Juli dan seterusnya akan melakukan pembinaan preman-preman yang biasa bikin onar. Akan kami masukan ke barak militer untuk mendapat pendidikan dan dikoneksikan dengan pembangunan,” ujar Dedi Mulyadi dalam pernyataan yang diunggah di akun Instagram @dedimulyadi71.
Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk meredam tindakan premanisme, tetapi juga memberi kesempatan bagi para pelakunya untuk berubah dan hidup secara produktif.
Setelah melalui pelatihan disiplin, mereka akan dilibatkan dalam berbagai proyek pembangunan daerah, seperti pembangunan jalan, jembatan, sekolah, dan rumah untuk rakyat miskin.
“Mereka nanti bekerja di pembangunan-pembangunan yang hari ini digerakkan oleh Pemprov Jabar: bangun jalan, bangun irigasi, bangun jembatan, bangun sekolah, bangun rumah rakyat miskin, dan masih banyak sekali proyek pembangunan,” jelas orang nomor satu di Jawa Barat itu.
Dedi Mulyadi juga menekankan bahwa premanisme sering kali muncul bukan semata karena kriminalitas, melainkan akibat pengangguran dan keengganan untuk bekerja keras.
“Premanisme ini juga akibat karena nganggur, orang tidak mau bekerja tapi ingin punya duit. Cukup nongkrong, duduk, minum, bergerombol, kemudian mereka mendatangi satu tempat untuk dapat uang,” ungkap Dedi Mulyadi.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
