Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 06.37 WIB

Tukang Cireng Naik Haji, Kisah Perjuangan Nanik Hariyati dari Jombang ke Tanah Suci

Kisah Nanik Hariyati, ibu tunggal dan penjual cireng asal Jombang yang berangkat haji lebih cepat enam tahun bersama adiknya, Sholihati. (Humas PPIH Embarkasi Surabaya) - Image

Kisah Nanik Hariyati, ibu tunggal dan penjual cireng asal Jombang yang berangkat haji lebih cepat enam tahun bersama adiknya, Sholihati. (Humas PPIH Embarkasi Surabaya)

JawaPos.com - Senyum semringah terpancar jelas di raut wajah Nanik Hariyati, jamaah haji asal Desa Trawasan, Kecamatan Sumobito, Jombang. Sebentar lagi, ia akan menunaikan rukun Islam kelima yang selama ini diimpikan.

Nanik tergabung dalam kloter 19 asal Jombang yang tiba di Asrama Embarkasi Surabaya pada Selasa (6/5) pukul 14.20 WIB. Nanik dijadwalkan tiba di Madinah pada Kamis (7/5) pukul 23.20 WIB.

"Alhamdulillah saya dapat berangkat lebih cepat enam tahun dari estimasi karena ikut penggabungan mahram dengan adik saya. Saya seharusnya berangkat haji tahun 2031," ucap Nanik dengan mata berkaca-kaca.

Sehari-hari, Nanik bekerja sebagai penjual cireng. Ia tak pernah membayangkan bisa mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Tanah Suci. Baginya, menjalankan ibadah haji adalah anugerah yang sangat ia syukuri.

Di balik perjuangannya yang inspiratif, Nanik adalah seorang ibu tunggal. Sejak suaminya wafat pada 1995, ia rela menjalani berbagai pekerjaan demi mencukupi kebutuhan ketiga buah hatinya.

Mulai dari menjadi pembantu rumah tangga, menjadi buruh pabrik kupruk (topi), hingga berbagai pekerjaan serabutan lainnya dilakoni oleh jamaah berusia 63 tahun ini.

"Waktu suami saya meninggal, anak saya masih kecil-kecil. Kalau ingat dulu perjuangan membesarkan anak-anak sendirian, dan tahun ini saya dapat berangkat ke Tanah Suci, saya bersyukur sekali," tuturnya.

Nanik mengisahkan bahwa mendiang suaminya mewariskan sebidang tanah. Pada tahun 2014, tanah tersebut laku terjual dengan harga Rp 50 juta. Separuh dari uang hasil warisan lalu dibuat untuk mendaftar haji.

"Yang Rp 25 juta, saya buat daftar haji, sisanya dibagikan ke anak-anak. Saya daftar haji tahun 2014 dan diperkirakan berangkat 2031, jadi dapat masa antrean selama 17 tahun," tutur Nanik.

Dengan haru, Nanik bersyukur bisa berangkat lebih cepat enam tahun lewat program penggabungan mahram. Ia ikut sang adik, Sholihati, yang telah mendaftar haji lebih dulu pada tahun 2012.

"Saya akan memanjatkan doa untuk anak dan cucu di sana (Tanah Suci). Semoga anak-anak diberi rezeki yang barokah dan dapat berangkat haji," tukas Nanik.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore