
Memahami “Sawan” dalam Kepercayaan Jawa: Bukan Sekadar Gangguan Kesehatan Biasa (jcomp/Freepik)
JawaPos.com - Apakah Anda pernah mendengar istilah “sawan”? Dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika tinggal di lingkungan masyarakat Jawa, Anda tentu pernah mendengar istilah "sawan".
Istilah ini sangat lekat dalam budaya dan sering digunakan untuk menjelaskan kondisi gangguan kesehatan yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Walau terdengar kuno, sawan menyimpan makna yang dalam dan mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memandang hubungan antara tubuh, jiwa, dan energi di sekitar.
Menurut penjelasan dari salah satu video di kanal Youtube Panggilan Leluhur, sawan adalah kondisi yang muncul secara tiba-tiba, baik pada anak-anak maupun orang dewasa, tanpa penyebab medis yang jelas. Kejadian ini kerap ditandai dengan perubahan perilaku atau kondisi fisik secara mendadak.
Misalnya, seorang anak yang semula ceria tiba-tiba menjadi rewel, menangis terus-menerus, bahkan mengalami kejang atau lenting di kulit. Pada orang dewasa, gejalanya bisa lebih halus, seperti perasaan bingung, gelisah, atau merasa diawasi, meskipun secara medis dinyatakan sehat.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, sawan sering kali dikaitkan dengan pengaruh energi halus atau makhluk gaib yang tidak kasat mata. Penyebabnya pun beragam dan berkaitan erat dengan aktivitas atau tempat yang memiliki muatan spiritual kuat.
Misalnya, mengunjungi hajatan besar saat bayi belum selesai masa selapan, melayat ke pemakaman, datang ke tempat wingit, keluar saat magrib, atau terkena angin malam. Bahkan pujian berlebihan terhadap anak kecil pun bisa menjadi pemicu, karena dipercaya dapat menarik perhatian makhluk halus.
Apa yang menarik dari konsep sawan ini adalah bagaimana masyarakat Jawa melihat bahwa kesehatan tidak hanya soal fisik semata, tapi juga melibatkan keseimbangan energi dan spiritual. Ketika tubuh dalam keadaan lemah atau jiwa sedang tidak stabil, seseorang akan lebih mudah mengalami gangguan energi dari luar.
Sebagai penutup, memahami sawan bukanlah tentang menakuti atau menolak ilmu modern. Sebaliknya, ini adalah bentuk kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap sinyal dari tubuh dan lingkungan sekitar.
Sawan mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang tampak, tetapi juga tentang menjaga harmoni antara jasmani dan rohani. Pengetahuan ini, meski diwariskan secara turun-temurun, tetap relevan di zaman sekarang dan patut kita hargai sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
***

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
