JawaPos.com - Bima Yudho Saputro, kreator konten yang juga seorang pelajar asal Lampung di Australia dilaporkan ke polisi usai mengkritik kampung halamannya sendiri dan viral di media sosial. Salah satu kritikan Bima terhadap pemerintah daerah Provinsi Lampung terkait jalanan yang rusak.
Dia menggambarkan jalanan di kampung halamannya itu 1 kilometer bagus dan 1 kilometer berikutnya rusak. Siapa sangka, kritikan Bima terhadap pemerintah daerah justru berujung pada pelaporan polisi. Dia dilaporkan karena menyebutkan 'dajjal' sehingga membuat pemerintah daerah gerah.
Tak sampai di situ saja, orang tua Bima yang merupakan PNS diintervensi dipanggil oleh Bupati Lampung Timur. Kabarnya berusaha dicari-cari kesalahan Bima, terutama soal biaya kuliahnya di luar negeri. Ibunya kabarnya turut diperiksa.
"Bokap gua PNS biasa golongan. 99 persen dari nyokap gue. Bokap gue nggak pernah kirim gua duit. Satu dolar pun nggak pernah. Nggak bakal cukup juga PNS dan hari ini bokap gua dipanggil Lampung Timur sama polisi," curhat Bima di akun media sosial. Orang tuanya yang tidak tahu apa-apa turut diperiksa, mereka hanya bisa menangis.
Bima yang kini menghadapi permasalahan hukum usai dilaporkan ke polisi karena melayangkan kritikan terhadap kampung halaman yang amat dicintainya, mendapat pembelaan tegas dari penulis noves Bungkam Suara, J.S. Khairen.
Dia menyayangkan sikap pemerintah daerah yang berusaha membungkam Bima. Sementara kritikan sejatinya merupakan pintu gerbang ke arah kemajuan.
"Bima & Lampung. Itu baru 1 orang di era modern ini. Saya yakin ada banyak Bima Bima lainnya. Mustahil pak, menyuruh Gen Z dan milenial diam-diam saja. Wong kami dari kecil, sudah pegang mouse dan ponsel pintar," tulis J.S. Khairen di Twitter.
Dia menyebut, kemajuan teknologi komunikasi terkadang digunakan untuk melakukan hal-hal tak bermanfaat dengan drama-drama tak bermutu oleh generasi sekarang. Tapi ada juga yang memanfaatkannya untuk hal-hal positif.
Khairen yakin betul Bima termasuk tipe kedua karena mengkritik sebagai wujud kecintaannya pada kampung halaman. "Tangis Bima, marah dan ketakutannya, adalah tangis, marah dan rasa takut kami juga. Ada kepal tinju kami, ada suara kami yang tertahan di isaknya sore ini," lanjutnya.
Khairen meyakini kritikan Bima terhadap pemeringah daerah Lampung bukan berisi kebohongan atau mengada-ngada. Karena menurutnya, banyak orang di Lampung juga melayangkan kritikan serupa.
"Jika beberapa waktu lalu spall spill ramai oleh pejabat-pejabat di Kemenkeu, maka boleh jadi sekarang gelombang baru muncul: pada pemda, pemkab, dan pemkot. Ditunggu Bima Bima dari provinsi lainnya! Dituntut untuk transparent goverment," lanjutnya.
Khairen menegaskan bahwa para tokoh pendiri bangsa seperti Soekarno dan lain-lain juha merupakan tukang kritik. Karena kritikan mereka yang pedas menusuk telinga penguasa, mereka sampai diasingkan.
"Kamu tahu? Dulu ada orang-orang yang diasingkan dan dibungkam gara-gara mengkritik. Mereka dikirim ke pulau, ke daerah-daerah terpencil. Orang-orang itu bernama Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Cut Nyak Dien, dll Banyak sekali. Apa hadiah dari kritik mereka? KEMERDEKAAN!," tegasnya.