
Ilustrasi guru yang sedang mengajar. (Freepik)
HARI ini dunia benar-benar berada dalam genggaman. Hanya dengan beberapa ketukan di layar smartphone, seseorang bisa mengakses berbagai keperluan. Tak ubahnya dalam dunia pendidikan. Ironinya, wajah pendidikan kita kini seolah ditampar oleh fakta kemunduran pengetahuan.
Padahal jika menilik fasilitas, pelajar hari ini adalah generasi paling beruntung. Mereka didampingi pendidik adaptif, beragam kurikulum mutakhir, serta perpustakaan digital yang bisa diakses kapan saja.
Dengan segala kemudahan ini peserta didik masa kini seharusnya melaju jauh melampaui generasi 80-90an. Generasi terdahulu harus mengayuh sepeda berkilo-kilo meter demi satu informasi di perpustakaan kota, atau harus mengantre panjang hanya untuk menggunakan mesin ketik. Namun, mengapa dengan kecepatan internet 5G, nalar dan pengetahuan umum pelajar saat ini justru terasa berjalan di tempat atau bahkan mundur ke belakang?
Fenomena ini bukan sekadar asumsi pribadi. Dalam berbagai konten pendidikan yang berseliweran di media sosial, seperti yang kerap diunggah akun Instagram @dinowakjess, publik sering kali disuguhi potret yang memprihatinkan. Yaitu ketika pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai pengetahuan umum dasar atau logika matematika dilemparkan kepada para pelajar. Jawaban yang muncul sering kali jauh dari harapan. Konten-konten itu secara jujur mempertontonkan betapa "asingnya" pengetahuan dasar bagi sebagian generasi yang sebenarnya tumbuh di era informasi yang serba instan.
Tantangan pendidik hari ini bukan lagi sekadar mentransfer ilmu, tetapi memperbaiki perilaku belajar. Riset Jurnal Ilmiah Bimbingan dan Konseling mencatat 56,3% siswa terpaku pada TikTok selama 2-3 jam sehari. Angka ini adalah alarm keras yang menunjukkan bahwa minat belajar peserta didik sedang mengalami degradasi serius. Sebagaimana dipahami, TikTok telah menjadi "kiblat" baru bagi remaja. Format video singkat dengan tren gerakan yang selalu diperbarui serta ritme dinamis menciptakan rangsangan cepat yang memanjakan otak. Akibatnya, ambang batas kesabaran siswa dalam mencerna materi pelajaran yang mendalam menjadi tipis. Kini, para pelajar terjebak dalam perlombaan mengejar For Your Page (FYP). Motivasi belajar sering kali kalah saing dengan dorongan untuk eksis dalam tren yang sedang viral. Cukup ironis, saat teknologi seharusnya memerdekakan nalar, ia justru menjerat peserta didik yang pada akhirnya mengasingkan mereka dari kedalaman pengetahuan.
Dalam falsafah, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Namun, di era yang popularitas diukur melalui jumlah viewers dan likes, batas antara profesionalitas dan keinginan eksis sering kali menjadi kabur. Publik kerap melihat fenomena guru yang membuat konten TikTok di sekolah dengan seragam lengkap. Tidak jarang, wajah murid ditampilkan dalam konten tersebut atau bahkan ada kalanya siswa yang mengajak guru membuat konten. Namun, di sinilah letak ujian kedewasaan seorang pendidik. Guru seharusnya menjadi pihak yang memberikan batasan. Menjadi guru yang "kekinian" tidak harus dengan cara mengikuti tren viral yang menjatuhkan wibawa. Sebab, keteladanan adalah integritas diri yang harus dipegang teguh.
Beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam unggahan TikTok resminya juga turut prihatin. Secara tegas dia berharap guru tidak melakukan kegiatan media sosial di lingkungan sekolah yang tidak relevan dengan urusan pendidikan. Ia menyoroti praktik-praktik seperti guru yang "joget-joget" di ruang kelas atau memamerkan atribut pribadi demi eksistensi. Senada dengan hasil penelitian oleh Situmorang dan Naibaho (2025) dalam jurnal Etika Profesi Guru dalam Menghadapi Tantangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, media sosial memiliki potensi untuk memperluas pengaruh guru, meskipun berisiko menjadi sarana pencitraan semu.
Pemerintah resmi membatasi akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Per April 2026, Kementerian Komdigi melaporkan TikTok telah menonaktifkan 780.000 akun di Indonesia sebagai bentuk kepatuhan regulasi. Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan, kebijakan "darurat digital" ini adalah dukungan negara agar orang tua tidak "bertarung sendirian melawan raksasa algoritma." Langkah tegas ini diharapkan dapat memberi ruang bagi para pelajar untuk kembali menoleh pada buku dan pengetahuan.
Pada akhirnya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, bukan sekadar memoles citra di ruang digital. Baik pemerintah, pendidik, maupun orang tua harus berani menarik batas yang jelas: kapan teknologi menjadi alat bantu belajar, dan kapan ia menjadi racun bagi konsentrasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022