JawaPos.com - Dua puluh tahun telah berlalu sejak tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 yang menelan ratusan ribu jiwa. Tragedi ini tidak hanya menjadi mimpi buruk bagi para penyintas, tetapi juga menjadi titik balik dalam upaya mitigasi bencana di Indonesia. Saat itu, minimnya teknologi dan belum adanya sistem peringatan dini membuat respons terhadap bencana menjadi sangat terbatas.
Tsunami Aceh membuka mata bangsa Indonesia akan pentingnya memiliki sistem peringatan dini yang cepat, akurat, dan terintegrasi. Dari sinilah Indonesia mulai membangun Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), sebuah sistem yang bertujuan untuk memberikan peringatan dini agar masyarakat dapat menyelamatkan diri sebelum bencana terjadi.
Selain itu, pemerintah menyusun standar operasional prosedur (SOP) mitigasi bencana dan terus meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya memahami risiko bencana. Semua langkah ini dirancang agar tragedi serupa tidak terulang tanpa kesiapan.
Namun, seperti yang diingatkan oleh bencana gempa dan tsunami Palu pada 2018, risiko bencana di Indonesia jauh lebih kompleks. Rahmat, salah satu penyintas yang juga menjadi saksi peristiwa ini, mengungkapkan bahwa likuifaksi yang terjadi setelah gempa membuat kerusakan semakin meluas dan tidak terduga.
"Tsunami Aceh adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah saya lupakan. Saat itu, kami tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak ada peringatan dini, tidak ada panduan. Dua puluh tahun kemudian, kita sudah punya teknologi dan sistem yang jauh lebih baik, tapi saya percaya, kesiapan masyarakat adalah kunci utama agar bencana tidak lagi membawa kehancuran sebesar itu," ujar Rahmat, dilansir dari BMKG, Kamis (26/12).
Tsunami Aceh bukan hanya mengingatkan akan bahaya gempa dan tsunami, tetapi juga memperkenalkan risiko likuifaksi ke dalam kesadaran publik. Fenomena ini terjadi ketika tanah kehilangan kekuatannya akibat guncangan gempa, membuat bangunan dan struktur di atasnya runtuh atau tertelan tanah.
Kejadian ini menyoroti pentingnya memperbarui teknologi, SOP mitigasi, dan edukasi masyarakat. Meskipun teknologi terus berkembang, tanpa kesadaran dan kesiapan masyarakat, upaya mitigasi akan sulit mencapai hasil maksimal.
Hingga hari ini, teknologi terus diperbarui untuk mendukung mitigasi bencana. Sistem deteksi dini diperbaiki, dan komunikasi antarinstansi dipercepat. Namun, hal ini harus didukung oleh partisipasi masyarakat dalam memahami dan mematuhi SOP bencana.
Tanpa pemahaman yang baik, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal. Kesadaran masyarakat harus ditingkatkan melalui latihan evakuasi, penyebaran informasi yang mudah diakses, dan integrasi antara pemerintah, komunitas, dan media.
Pada peringatan 20 tahun tsunami Aceh, mari kita kenang para korban dan mengambil pelajaran dari setiap bencana yang terjadi. Bencana adalah peringatan bahwa kita harus terus belajar, beradaptasi, dan bersiap menghadapi risiko yang mungkin terjadi di masa depan.