Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Agustus 2024 | 17.09 WIB

Antisipasi Gempa Megathrust, Mensos Tri Rismaharini Maksimalkan Kampung Siaga Bencana di Daerah  

Menteri Sosial Tri Rismaharini memberi keterangan usai meninjau Sentra Alyatama di Jambi, Rabu (21/8). (Zalzilatul Hikmia/Jawa Pos Koran) - Image

Menteri Sosial Tri Rismaharini memberi keterangan usai meninjau Sentra Alyatama di Jambi, Rabu (21/8). (Zalzilatul Hikmia/Jawa Pos Koran)

JAMBI – Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini menyatakan bahwa Kemensos tengah berupaya memaksimalkan kampung siaga bencana. Langkah itu untuk mengantisipasi ancaman bencana di Indonesia, termasuk megathrust.

Tujuannya agar masyarakat bisa lebih siaga dalam menghadapi bencana dan risiko timbulnya korban jiwa akibat bencana bisa ditekan.

“Memang harus disiapkan. Ya, kita semua takut, aku pun takut. Tapi memang harus disiapkan. Kadang kan kalau kita ngomong baik-baik saja, mereka nggak siap,” ujarnya ditemui usai meninjau Sentra Alyatama di Jambi, Rabu (21/8).

Dalam program ini, pelatihan siaga bencana difokuskan langsung pada masyarakat. Kesiapan menghadapi bencana tak lagi hanya ditanggung petugas-petugas tertentu.

Warga dilatih proses evakuasi ketika ada peringatan bencana. Sistem peringatan dini juga akan  dibangun dengan melibatkan pihak-pihak terkait. 

Misalnya di wilayah Mentawai, Sumatera Barat, saat ini Kemensos bekerja sama dengan BMKG untuk melakukan pemetaan mengenai megathrust di wilayah tersebut.

Selain itu, tim juga memberikan pelatihan terkait bahaya tsunami dan cara evakuasi. Kemudian, di daerah Gunung Marapi, Kemensos menggandeng Kementerian ESDM yang paham mengenai aliran api untuk mendesain jalur evakuasi. 

“Wilayah Indonesia itu cukup besar. Satu kecamatan kadang butuh 2–3 jam dari pusat kota. Jadi tidak bisa lagi model seperti dulu, posko tersentral, misal kantor kabupaten atau provinsi,” ungkapnya.

Saat ini, kampung siaga bencana sudah banyak tersebar di Indonesia. Tercatat, ada 1.132 kampung siaga bencana, dan jumlah terbanyak berada di Jawa Barat dengan 135 lokasi.

Menurut Risma, efektivitas kampung siaga bencana ini sudah teruji. Dia mencontohkan saat banjir lahar dingin dan longsor akibat letusan Gunung Marapi. Saat itu, di Kabupaten Agam masih tidak memiliki Kampung Siaga Bencana. Terdekat, ada di Solok.

Usai bencana terjadi, warga Solok diperbantukan untuk ikut menangani bencana di Agam. “Kita bawa, mereka masak, ikut masang tenda, ikut bantu evakuasi. Jadi bisa diperbantukan,” paparnya. 

Risma memastikan bahwa pihaknya sudah memetakan lokasi yang butuh kampung siaga berdasarkan karakteristik bencana. Mulai dari bencana tsunami, gunung berapi, hingga likuifaksi.

Pemetaan dilakukan lantaran Risma mencurigai ada keterkaitan antara gunung-gunung di Indonesia. Sehingga ketika salah satu Meletus, maka lainnya juga akan turut bereaksi. Termasuk risiko adanya megathrust. Pihaknya sudah memetakan terkait dampak hingga antisipasinya. 

"paling tidak targetnya masyarakat sudah paham bagaimana teknik evakuasi diri secara mandiri," ungkapnya.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore